Umum


Sungguh surprise hari ini…hari terakhir di IMX, sambutannya diluar dugaan, hehe. Gimana nggak, bos besar berinisiatif makan siang bersama demi mengucapkan selamat tinggal buat seorang YH. Waks ? Subhanallah, aku merasa tersanjung. Jarang-jarang banget…

Alhamdulilah, secara umum performance kerjaku selama bergabung di IMX dinilai baik walaupun bukan tanpa cela. Bahkan dibilang kalo aku tuh contoh ideal untuk karyawan yang akan meninggalkan tempat dimana selama ini dia mengabdi. Wow, how’s suprise, WW bisa bilang kayak gitu. Nyaris tanpa conflict interest, walau tetap ada beberapa perbedaan, namun itu bukanlah hal yang prinsipil. Punya perencanaan kedepan yang baik dengan sistem usaha mandiri yang sedang berjalan, plus mampu ‘mencuri ilmu’ selama bergabung disini…

Yap, sungguh aku terkesima. As a human, WW itu baik dan saya sangat menghormatinya. However, selama 4 tahun terakhir saya telah menjadi bagian dari IMX dan mengambil manfaat darinya. Dari sinilah awalnya saya berkenalan dengan beberapa komunitas yang kelak mengubah mindset, wawasan hingga ke perilaku bekerja. Bahkan ilmu-ilmu yang kudapat dari sini diam-diam aku aplikasikan dalam kehidupan pribadiku. Sebagai contoh kecil, misalnya nge-blog, cara menulis, dst, seperti saat ini.

Hmm, memang benar. Hukum Ketertarikan, the law of attraction. Kita adalah seperti apa yang kita pikirkan. Kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Pandanglah lingkungan dengan positif, insyaAllah energi positif akan menjalari sekujur tubuh kita dan semesta mendukung atas semua apa yang ada dalam diri kita. Pasrah, ikhlas, fokus, berbaik sangka/positif thinking, merupakan aplikasi dari Law of Attraction. Dan sebagai muslim, hal ini sangatlah selaras dengan apa yang digariskan dalam Qur’an…akhlak yang baik tentu akan berbuah baik, insyaAllah.

Kini aku merasa lega. Aku telah berhasil membuat keputusan untuk memulai lembaran baru, berikhtiar untuk menjadi yang terbaik dan menebar sebanyak mungkin manfaat bagi orang lain. Dan IMX, menjadi saksi bisu titik awal perubahan arah perjalanan hidupku…

– Jakarta, 28 Februari 2007 –

Dear all,

Tak terasa sudah lebih dari 4 tahun ya saya bergabung di IMX. Banyak banget hal yang alami disini, dari suka duka, manis getir…walau saya belum ( atau tidak ? ) berkontribusi banyak untuk kemajuan IMX, namun saya senang bergabung didalamnya. Disini saya bisa belajar banyak hal, mulai dari praktek ilmu PR hingga gimana caranya nge-blog, hehe.

IMX itu unik. Terasa ada nuansa lain pas pertama saya bergabung disini. Jika selama ini saya rasakan kerja dengan segudang target setiap bulan yang harus dipenuhi, disini kondisi sebaliknya terjadi. Justru masing-masing pribadi diberikan kebebasan berkreasi tentunya yang sesuai dengan culture IMX…:-). Pokoknya sip banget deh. Pengecualian kali ya kalo IMX lagi penuh sama deadline-deadline project, beberapa friksi dan konflik antar IMX-ers juga kerap terjadi, kalo buat saya sih itu biasa, digalakin, dicuekin, dijutekin…take it easy aja, hehe. Buktinya tokh, hampir 4 tahun saya betah bergabung disini, at least menandakan ada nuansa yang memang membuat saya nyaman. Namun tak bisa dipungkiri, ditengah nuansa nyaman yang saya rasakan itu, ada kegalauan yang menghantui saya beberapa saat tahun terakhir. Yap, semuanya berujung pada satu pertanyaan : akan kemanakah saya ? haruskan saya ‘berhenti’ sampai disini ? menikmati hari-hari dengan minim prestasi ? Hm, bukan apa-apa sih, saya rasakan semakin hari ruang gerak saya semakin sempit jika saya masih bergabung disini. Dengan kesibukan saya diluar yang semakin intens, rasanya kok seperti kurang maksimal jika saya harus tetap hidup di ‘dua kaki’. Awalnya gamang saya memutuskan ini, namun tokh tetap harus saya ambil, saya harus pergi untuk merancang masa depan yang lebih pasti…

Sungguh, suatu kesenangan ( plus tantangan ? hehe ) tersendiri ketika bergabung di IMX. Sebuah organisasi kecil dimana interaksi antar anggotanya terjalin begitu kental, IMX itu jaringan, kapanpun dimanapun pasti kita bisa terlibat didalamnya…hehe, bener gak sih ? Dan saya pun ( dulu sempat ) merasa bangga pernah bergabung didalamnya. It’s really unique and amazing…

Yap, insyaAllah mulai besok Kamis, 01 Maret 2007, babak baru dalam sejarah kehidupan saya akan dimulai. At least, pola kerja yang nine to five tak lagi saya temui dan ini juga yang bikin agak lega : selamat tinggal kemacetan pagi hari…:-). Saya akan buat sendiri ’small home office’ di rumah. Memberdayakan komunitas sekitar, itulah impian saya, insyaAllah. Bersama tim, saya juga akan mengerjakan beberapa project dengan visi serupa.

Terimakasih atas waktu-waktu kebersamaan kita selama ini. Melalui media blog ini, ijinkan saya memberikan sedikit ‘overview‘ buat anggota IMX-ers :

to WW : Terimakasih telah memberikan kesempatan dan pelajaran mengenai banyak hal melalui tulisan-tulisannya di blog perspektif. WW itu demokratis walau sedikit narcis, maafff…

to EI, CL, WT, LH : Terimakasih atas bimbingannya yah selama ini. EI yang bijak dan sabar plus seneng banget kalo diajak sharing soal perkembangan anak…CL yang tegas, galak tapi padahal perhatian lho ama semua orang…WT yang baik tapi cerewetnya minta ampun…LH yang cool, smart  tapi tahan banting ( special thanks for u, saya sudah punya account utk trf nih skrg, hehe ).

to DH : Terimakasih untuk tetap setia mentransfer gaji saya selama ini…ingat tanggal 28, pasti nama Mbak Yani yang duluan dicari…hehe. Thanks for the support ya, Mbak terutama untuk request2 khusus itu, hehe.

to RA, HW, HM, MA, RN, MW, SM, IP, MS, SK, SN, JN, DS : thanks for everything. Speechless deh, sepertinya tuh sinetron OB di RCTI banyak miripnya di IMX…hehe. ada tukang gosip, tukang provokator, tukang marah-marah, bawel…:-p. Komplit. RA yang teliti tapi suka jutekin juga kalo lagi klaim obat kagak keluar-keluar…HW yang suka gak sabaran tapi sebenarnya seneng berbagi ( suka nawarin roti kalo pagi, hehe, cepat sembuh ya, how, jangan makan mie terus. ) …MA yang baik hati tapi suka banget keluyuran naik turun tangga dari lantai 3 sampe lantai 1 ( gile, gak capek tuh bolak-balik turun tangga, Ro ? hehe )…HM yang — tampangnya sih — kebapakan tapi suka banget ama yang bikin pikiran jadi kotor ( hiii, jijay deh, parno, parno )…RN yang kalem bawaannya tapi belum berjodoh juga ( semoga cepat dapet yang pas yah, makanya sikat aja langsung kalo ada yang klop, jangan pake acara pacaran lagi, hehe )…MW yang awalnya sih malu-malu tapi lama-lama ketahuan deh do’i rada-rada centil ( hehe, maaf yah mel )…SM yang perfeksionis tapi mau membantu orang…IP yang suka nyablak ama siapapun dan gak kenal malu, hehe…MS yang hapal banget jalan tikus ( kapan-kapan mau nih dianter keliling Jkt, hehe )…SK yang tampak alim tapi suka ‘melenceng’ juga ( hehe…abisan sholatnya rada-rada aneh gitu, bro…kembalilah ke jalan yang benar…:p )…SN yang sudah sepuh tapi suka sok jago kalo cerita, hehe….JN yang kesannya galak banget tapi suka baik juga kadang-kadang…terakhir DS yang sangat hapal berita-berita gosip terkini termasuk gosip antar IMX-ers tapi suka baik gratisin masakannya ( kalo gak laku, hehe ).  

Yap, itulah sekelumit perjalanan saya di IMX. Mohon maaf yang setulus dan seikhlas-ikhlasnya jika selama berinteraksi dengan saya ada salah, khilaf, baik yang disengaja atau  tidak. insyaAllah memori kebersamaan saya di IMX tak kan pernah lekang, karena honestly, dari sinilah babak baru dalam sejarah kehidupan saya berawal : menjadi seorang profesional mandiri yang bervisi…

Saya berharap semoga IMX akan tetap jaya dan dikenang sebagai sebuah tempat yang ( insyaAllah ) akan melahirkan orang-orang yang mempunyai visi besar. Seperti lilin, dia akan terus menerangi tanpa pernah merasakan indahnya terang…

Selamat tinggal IMX, saya akan tutup lembaran denganmu mulai hari ini dan menjalani hari dengan semangat dan visi yang baru…

— Jakarta, At the end of February 2007 —

Tulisan ini saya posting berkaitan dengan mulai banyaknya kelompok
Mastermind TDA yang terbentuk.

*Road map* yang berasal dari buku *The Secrets of Self Made Millionaire*-nya
Adam Khoo <http://adam-khoo.com/>, ini dijadikan acuan oleh kelompok TDA
Mastermind saya. Setiap pertemuan kami selalu membahas dan mengevaluasi
pelaksanaan dari *road map* ini.

Road map ini begitu sederhana, mudah dicerna dan *applicable*. Inilah
hebatnya Adam Khoo. Dia bisa membuat benang merah dari semua teori-teori
yang ada menjadi sederhana dan praktis.

Road map ini dinamakan *7 Steps to Financial Abundances*, yaitu:

1. *Mindset*, sekali lagi soal *mindset*. Ini adalah sumber dari semua cara
berpikir dan pola tindakan kita. Ini harus diberesin dulu, kata Adam Khoo.
Orang yang sudah *take action*, tapi gagal terus, biasanya gara-gara salah
di mind set ini. Beruntunglah, di TDA kita punya kurikulum DSA (Dreams,
Strategy, Action). Lengkap. Apa *lagi besok kita mau nonton bareng film **The
Secret* <http://thesecret.tv/>*, yang banyak bicara soal pikiran dan*mindset.

2. *Goals*. Ya, kita harus punya tujuan yang jelas. Ini juga bakal
disinggung di film The Secret. Tentukan *goals* yang jelas. Kalau tidak ada
goals yang jelas bisa jadi kita kehilangan arah dalam mencapainya.

3. *Financial Plan*. Setelah *goals*-nya jelas, maka diperlukan *financial
plan* bagaimana itu semua bisa dicapai. Di bukunya dengan jelas dipaparkan
bagaimana cara-cara itu. Sangat-sangat praktis. Makanya, saya sebut buku ini
seperti *manual book*. Tinggal ikutin aja *step-step*nya. http://bradsugars.com/>atau Action Business Coach masuk.
Bagaimana meningkatkan omzet dan profit bisnis secara mudah dan sederhana.

*By the way*, bagaimana omzet dan profit usaha anda saat ini? FYI, per
Februari ini keuntungan bisnis saya meningkat tajam, lho. Alhamdulillah.

5. *Reduce Expense*. Ini juga harus dilakukan. Jangan hanya memperbesar nincome tapi boros dan akhirnya bangkrut juga. Di sini kita diharuskan untuk
selalu berusaha menekan pengeluaran. *Live below your mean*, hidup
sederhana.
Di kelompok mastermind saya, ada cerita menarik. Ada salah satu anggotanya
yang saking ngototnya mempraktekkan ini, sampai menahan keinginannya makan
coklat. Sampai-sampai isi kulkasnya pun dikurangi drastis. Saya sih kurang
setuju. Perut jangan sampai dikorbankan. Tapi, intinya adalah gaya hidup
hemat tanpa mengorbankan pengeluaran yang memang diperlukan. Tetap harus
menikmati hidup, menurut saya.

6. *Grow*. Nah ini juga harus dilakukan. Kalau sudah terkumpul uangnya,
harus direncanakan pertumbuhannya. Makanya dalam kelompok mastermind saya
juga dibicarakan tentang investasi.

Salah satunya adalah dengan mengundang Pak Budi Rachmat, Pak Joseph Hartanto
untuk sharing berbagi ilmu mengenai investasi dan bisnis propertinya.
Alhamdulillah, saya dan teman-teman sudah mempraktekkan ilmu ini.

Saham, bisnis, danareksa juga menjadi pilihan yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan pertumbuhan aset kita. Oya, jangan lupa lakukan aset alokasi,
pesan Pak Tung DW.

7. *Protect*. Aset kita harus aman. Caranya? Bisa lewat asuransi, bantuan
hukum, jasa pengelola aset dan sebagainya. Banyak lho, orang yang pintar
mengumpulkan tapi tidak di*protec*t. Akhirnya amblas begitu aja.

Oya, mungkin yang nggak disinggung oleh Adam Khoo adalah *the power of”,1] ); //–>

4. *Increase Income*. Ini yang menarik. Nah, di sinilah ilmunya Brad
Sugars<http://bradsugars.com/>atau Action Business Coach masuk.
Bagaimana meningkatkan omzet dan profit
bisnis secara mudah dan sederhana.

*By the way*, bagaimana omzet dan profit usaha anda saat ini? FYI, per
Februari ini keuntungan bisnis saya meningkat tajam, lho. Alhamdulillah.

5. *Reduce Expense*. Ini juga harus dilakukan. Jangan hanya memperbesar
income tapi boros dan akhirnya bangkrut juga. Di sini kita diharuskan untuk
selalu berusaha menekan pengeluaran. *Live below your mean*, hidup
sederhana.

Di kelompok mastermind saya, ada cerita menarik. Ada salah satu anggotanya
yang saking ngototnya mempraktekkan ini, sampai menahan keinginannya makan
coklat. Sampai-sampai isi kulkasnya pun dikurangi drastis. Saya sih kurang
setuju. Perut jangan sampai dikorbankan. Tapi, intinya adalah gaya hidup
hemat tanpa mengorbankan pengeluaran yang memang diperlukan. Tetap harus
menikmati hidup, menurut saya.

6. *Grow*. Nah ini juga harus dilakukan. Kalau sudah terkumpul uangnya,
harus direncanakan pertumbuhannya. Makanya dalam kelompok mastermind saya
juga dibicarakan tentang investasi.

Salah satunya adalah dengan mengundang Pak Budi Rachmat, Pak Joseph Hartanto
untuk sharing berbagi ilmu mengenai investasi dan bisnis propertinya.
Alhamdulillah, saya dan teman-teman sudah mempraktekkan ilmu ini.

Saham, bisnis, danareksa juga menjadi pilihan yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan pertumbuhan aset kita. Oya, jangan lupa lakukan aset alokasi,
pesan Pak Tung DW.

7. *Protect*. Aset kita harus aman. Caranya? Bisa lewat asuransi, bantuan
hukum, jasa pengelola aset dan sebagainya. Banyak lho, orang yang pintar
mengumpulkan tapi tidak di*protec*t. Akhirnya amblas begitu aja.

Oya, mungkin yang nggak disinggung oleh Adam Khoo adalah *the power of giving*. Ini kita sudah tau, lah. Shodaqoh, zakat, infaq adalah investasi
dunia akhirat dengan tingkat pengembalian yang tidak terhitung jumlahnya.
Ya, ketujuh langkah *plus the power of giving* itu adalah langkah yang akan
mengantarkan kita menjadi TDA seutuhnya.Kepada kelompok mastermind yang sudah terbentuk, selamat memulai. Ini
sekedar masukan dari saya. Semoga bermanfaat.

Salam FUUUNtastic!
Silaturahmi membawa rezeki

Wassalam,
Roni

Pernyataan itu terus terngiang-ngiang hingga detik ini. Yap, selepas menghadiri acara Milad TDA I, kata-kata itu seolah menjadi kosakata baru yang terus meminta untuk diterjemahkan lebih lanjut. Bagaimana mungkin orang yang bangkrut dibilang keren ? hehe, ada-ada aja…

Banyak hal kudapat setelah bergabung di komunitas ini. Komunitas yang terdiri atas kumpulan orang-orang yang mendambakan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Menjadi Tangan Diatas dengan segala dimensinya. Menjadi kaya multi perspektif, harta, jiwa dan iman. Menjadi seorang independen dengan membentuk quality of life lebih maksimal, tanpa terbentur dengan irama kerja yang membosankan.  Menjadikan bisnis sarana untuk berdakwah, menebar rahmat nan bermanfaat…subhanallah. Kemudian pikiranku menerawang ke beberapa waktu silam…

Entah apa yang kurasakan saat itu. Langkahku gamang, tak tentu arah harus berbuat apa. Bisnis makanan yang kurintis sekitar setahun yang lalu itu tak kunjung membuahkan hasil seperti yang kuharapkan. Yang terjadi malah sebaliknya, omzet penjualan terus menukik tajam ke titik terendah bahkan nol, jika tak bisa dibilang minus alias nombok terus. Sedikit modal yang kupunya — itupun hasil dari pinjaman kantor sebenarnya — perlahan tapi pasti ikut tergerus. Apa yang bisa kuharapkan dengan kondisi seperti ini ? Jujur saja, diri ini pusing dan bingung kala itu. Berbagai cara dan trik-trik penjualan seperti yang biasa dipraktekkan sebelumnya ternyata tak cukup ampuh untuk menaikkan penjualan. Hasilnya tetap stag, mati suri. Sempat terbersit aku akan berhenti berbisnis jika hasilnya hanyalah kegagalan demi kegagalan. Aku merasa menjadi orang yang paling malang. Seorang diri aku memasuki belantara bisnis dan hanya kegelapan yang selalu kutemui. Hingga suatu ketika…

Milis Tangan Diatas ? Apaan sih ? Karena rasa penasaran, aku beranikan diri daftar masuk jadi anggota. Olala, ternyata isinya penuh dengan postingan-postingan motivasi untuk menjadi seorang mandiri alias jangan mau jadi orang gajian terus. Dan menariknya, tidak sekedar berwacana dan berdiskusi, tapi lebih dari itu mengarahkan membernya untuk segera take action jika mau berubah. Semakin lama berinteraksi dengan para member di milis itu, perlahan rasa percaya diriku untuk kembali berbisnis mulai menyeruak. Beberapa kali kuhadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan secara spontan dan memang kurasakan ada nuansa yang beda didalamnya. Apalagi ketika aku semakin mengenal Pak Haji Ali, founder dan penggagas komunitas ini, semakin diri ini dibuat takjub karenanya. Menjadi seorang kaya namun gemar berbagi, menjadikan bisnis sebagai sarana untuk berdakwah dan menebar rahmat, subhanallah.

Kuteringat, bazaar bertajuk PKS Expo 2006 adalah action pertama yang kuikuti bersama TDA Community. Hasilnya ? karena digarap dengan passion, hasrat yang tinggi untuk segera bangkit dari ‘keterpurukan’, alhamdulilah jualan jilbab-nya kala itu laku keras. Dari sini, rasa percaya diriku mulai bangkit dan sejak itu, aku kembali ‘bergerilya’ untuk temukan kembali peluang-peluang bisnis apalagi yang bisa dibidik. Diri ini bertekad, insyaAllah suatu saat aku harus bisa menjadi seorang mandiri. Hingga pada suatu kesempatan, ada tawaran dari Pak Roni, owner TDA, bagi siapa saja yang berminat untuk mengisi kios di Metro Tanah Abang ( MTA ), tapi kali ini produknya adalah sepatu. Wah ?

Ibarat masuk hutan belantara nan pekat, kali ini bidang bisnis yang akan kumasuki benar-benar baru tapi menantang. Namun, terdorong oleh semangat dan gairah bisnisku yang kian membuncah, aku beranikan untuk mendaftar menjadi salah satu pengisi kios di MTA. Gpp-lah, learning by doing. Tokh, jika tidak dimulai nasibku akan tetap begini-begini saja : menjadi karyawan dengan segala keterbatasannya, pergi pagi pulang petang, gaji bulanan hanya naik bak keong berjalan, plus jenjang karir yang tidak menjanjikan. Aku harus bangkit dari ‘keterpurukan’, aku tidak boleh larut dalam situasi gamang, aku harus ambil keputusan. Alhamdulilah, satu modal mendasar untuk kembali memulai telah berhasil kudapatkan, kepercayaan diri dan semangat. Tinggal kini susun kembali planning yang sempat tertunda termasuk menengok kondisi finansial yang sudah mati suri pasca kegagalan berbisnis makanan tempo hari. Kini aku kembali berani bermimpi untuk someday menjadi seorang mandiri yang lewat tangannya akan semakin bisa berbagi lebih banyak serta mempunyai quality of life lebih berkualitas dalam hal beribadah dengan segala aspeknya.

Hm, sebenarnya keputusan mengambil kios ini terbilang nekat. Bagaimana tidak, pasca kegagalan berbisnis makanan tempo hari, keadaan finansial kami memprihatinkan. Nyaris tidak ada cadangan dana yang tersisa, yang ada hanyalah semangat untuk segera bangkit dari kondisi ini. Lalu darimana modal buat ngisi kios ? tidak ada yang tidak mungkin, pikirku. Mulai kulatih otak kiriku untuk segera memberikan input apa yang harus kulakukan. Aku tidak mau lagi berpikir linear, seperti yang selama ini terjadi. Kuhubungi beberapa rekan dan saudara yang mau diajak kerjasama. Alhamdulilah, segelintir dari mereka memberikan respon dan mau meminjamkan uang untuk modal. Yap, hanya segelintir dalam arti hanya satu-dua orang yang masih mau membaca dan menyimak proposalku. Kadang timbul pikiran, di dunia ini mana ada sih orang yang mau pahitnya dulu ? kalo terasa manis, baru langsung deh pada ngerubung, gumamku dalam hati. Ah, tidak. Semoga saja ini hanya persangkaanku dan aku bertekad dalam hati bahwa suatu saat aku harus menjadi seorang aghniya yang mau dan bisa memberikan manfaat untuk sesama. Singkat cerita, dengan modal kurang dari 5 juta rupiah hasil pinjaman sana-sini, aku mulai melangkah membangun kios sepatu di MTA…

Direct selling disela-sela rutinitas harian ke komunitas kantor, lingkungan tetangga, pengajian, aktif ‘beroperasi’ di bazaar-bazaar dan pasar kaget musiman, hingga iseng-iseng bikin blog gratisan untuk toko online ABINYA menjadi kesibukan tambahanku belakangan ini. Sekarang nyaris setiap minggu aku fokuskan untuk jualan produk ABINYA agar makin dikenal. Ngegelar dagangan bak pedagang kaki lima menjadi menu tambahan pengganti acara weekend. Kemanapun aku pergi, tak lupa kubawa kartu nama toko ABINYA sebagai promo bahwa aku sudah punya toko. ( hehe, padahal masih gratisan, gpp-lah nebeng nama dulu, bener kata Pak Haji tanpa disadari status sosial kita ikut ‘terangkat’ lho dengan berjualan di Tanahabang. ). Waktu pun terus bergulir…

Subhanallah, tanda-tanda cerah kini mulai nampak. Walaupun traffic pengunjung di MTA masih belum sesuai harapan, namun beberapa order telah berhasil kudapat dan pertumbuhan omzet tetap stabil bahkan terus meningkat setiap waktu. Hal ini terjadi terutama ditopang dari penjualan online kami. Alhamdulilah, lewat promosi gratisan di iklan-iklan baris plus sistem direct mail ke email-email rekanan, perlahan toko online ABINYA mulai dikenal. Dari leads-leads yang masuk, beberapa berhasil closing. Tercatat beberapa daerah seperti NTB, NTT, Bali, Palembang, Padang, Semarang, Cilacap, Surabaya menjadi tujuan pengiriman produk grosir ABINYA. Bahkan yang saat ini sedang dalam proses, pesanan khusus dari Kanada. Subhanallah. Semoga saja order dari Kanada ini dapat terlayani dengan baik, karena ini termasuk pesanan besar dan berpeluang buatku untuk melakukan ekspor, insyaALLAH. ( kapan-kapan, aku cerita yah soal orderan dari Kanada ini, coz it’s my first experience, hehe ).

Yap, walau masih terseok dalam mengembalikan pinjaman yang tersisa akibat ‘warisan’ kegagalan berbisnis makanan tempo hari, kini langkahku semakin mantap untuk fokus menggarap ini. Kurasakan aku tidak lagi merasa seorang diri dalam berbisnis. Kini aku mempunyai sebuah komunitas dimana berisi orang-orang berkualitas yang senantiasa memberikan energi positif bagi pengembangan diri ini. Aku telah mempunyai networking dimana aku bisa belajar bagaimana membangun sebuah sistem bisnis yang mandiri. Tapi perjalanan masih panjang. Kuyakin akan semakin banyak onak dan duri yang akan kutemui, bahkan mungkin lebih dahsyat rintangannya dari yang kuduga. Namun, entah kudapat kekuatan dari mana, semakin rasa takut itu menggelayut dalam diri, semakin kuat keinginan untuk segera berbenah : menjadi seorang mandiri yang aghniya dan gemar berbagi…

Kutercenung, every cloud has a silver lining. Perlahan, kini hikmah-hikmah dari serentetan peristiwa-peristiwa dua tahun terakhir mulai ditampakkan. Allahu Akbar. Aku hanya tetap berdoa, semoga ALLAH tidak menjadikan diri ini lupa ketika aku benar-benar diamanahkan untuk menjadi seorang Tangan Diatas dalam segala dimensinya.

Dedicated for my wife and fam, thanks for ur support…

-Jakarta, at the beginning of February-

Teman saya mengajukan suatu pertanyaan: Apakah dalam
Al Quran ada contoh doa untuk minta kaya? Tentu ini
“debatable”, ada yang tegas mengatakan secara textual
tidak ada, namun ada yang mengatakan secara contextual
jelas ada, misalnya apakah doa Sulaiman minta kerajaan
seperti berikut termasuk memohon kekayaan atau tidak?
:”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah
kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun
sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
(QS Shaad: 35). Bayangkan, Nabi Sulaiman, minta
kerajaan yang “tidak dimiliki oleh siapa pun
sesudahku”. Silahkan dipahami dengan ilmu masing2.
Kita juga tidak dapat mengingkari bahwa, berbagai
contoh doa yang ada dalam Al Quran (yang truly
various) mengindikasikan bahwa kita dapat berdoa untuk
keperluan apapun. Termasuk yang ingin kaya.

Tapi lepas dari doa, tentu juga kita harus melakukan
sesuatu untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan Al
Quran penuh inspirasi untuk sukses. Berikut beberapa
points yang ingin saya share:

1. Berserah diri.Pengalaman saya sebagai
“wiraswastawan”, mengajarkan bahwa untuk soal rejeki
dan kekayaan mau tidak mau kita hanya bisa berserah
kepada Allah. Sewaktu saya masih karyawan, tinggal
nunggu setiap tanggal 25 rejeki pasti datang. Jumlah
nya pasti lagi. Tapi ketika menjadi wiraswastawan,
sungguh, saya tidak tahu berapa rejeki yang akan saya
terima, dan kapan. Hanya Allah yang tahu. Disinilah
muncul derajat kepasrahan tertentu. Aku sekedar
berusaha, biar Allah yang putuskan hasilnya. Karena no
matter how hard I try, kalo belum rejeki nya malah gak
dapet2. Sebaliknya kadang2 yang dicuekin malah datang
sendiri. Ini betul2 cerminan dari ayat berikut:“Dan
bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan
kecukupan”, (QS. An Najm 53:48)

2. Bersyukur.Selain, berserah, pengalaman kedua adalah
menyangkut bersyukur. Tidak tahu kenapa, dengan selalu
mensyukuri berapapun rejeki yang kita peroleh,
alhamdulillah selalu dimudahkan dalam mendapatkan
sumber2 rejeki berikutnya.”Dan ketika Tuhanmu
memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu ….” (QS.
Ibrahim: 7)

3. Tabah dalam menghadapi masalah.Namanya usaha,
masalah selalu ada. Ditolak prospek. Musti bayar
tagihan. Tagihan kita ke customer gak dibayar2. Dan
sebagainya. Tapi percaya deh, itu semua proses yang
harus dilalui, dan Allah akan memberikan jalan keluar.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia
akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya
rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS.
Ath-Thalaq : 2-3)

4. Jangan “ingin kaya” tapi bersikaplah kaya.Hehehe …
mungkin sedikit membingungkan. “Ingin kaya” itu
menjebak. Biasanya akhirnya malah bersikap takut
kehilangan, pelit, negative dan sebagainya. Padahal
itu bukan “sikap” yang kaya. Orang “kaya” sejati tidak
takut kehilangan harta nya. Toh nanti bisa cari lagi.
Dan pasti ikhlas memberi, karena percaya Allah masih
akan kasih lagi.”Dan barang apa saja yang kamu
nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dialah
sebaik-baiknya Pemberi rizki”. (QS. Saba : 39)

5. Tidak mengulang kesalahan.Selalu memperbaiki diri.
Kalau pernah melakukan kesalahan, mohon ampun dan
jangan diulang. InsyaAllah dengan begini customer dan
partner selalu sayang sama kita. Walhasil kita
diibanyakkan rejeki.”Maka aku katakan kepada mereka,
mohon ampunlah kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu
dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu
dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan
(pula didalamnya) sungai-sungai”. (QS Nuh : 10-12)

* Disadur dari postingan rekan Fauzi Rachmanto, member of TDA Community *

 

Semakin lama waktu berjalan, aku merasakan seperti tidak ada perubahan yang berarti dalam keseharian. Berangkat kerja, pergi pagi, bermacet-macet di jalan, melakukan aktivitas rutin, cek dan kirim email berita, hingga jelang sore bersiap-siap lagi pulang ke rumah dan kembali bermacet-macet di jalan sampai matahari tenggelam di peraduan…

Kerap perasaan jenuh dan bosan menyapa namun hal ini tetap kulakukan walaupun kusadar kondisi ini akan terus berlanjut kecuali aku segera melakukan langkah perubahan. Yap, sekilas kita longok kondisi kerjaku saat ini. Bisa jadi semua ini terjadi karena diri ini yang kurang berkompeten atau bisa jadi pula ini semata karena sistem. Entahlah. Tahun-tahun pertama aku masih berusaha untuk belajar, beradaptasi dan memahami kondisi di lingkungan kerja. Aku senang dan merasa nyaman karena bidang pekerjaan ini sesuai dengan keinginanku selama ini, menjadi seseorang yang berkarya di dunia PR, suatu bidang yang ( katanya ) sedang booming tahun-tahun terakhir. Bidang yang ( mestinya ) dapat kujadikan sandaran untuk kehidupanku kelak. Namun, seiring waktu berjalan, perlahan harapanku terkikis sedikit demi sedikit. Kurasakan, aku semakin terkucilkan dan ‘masuk kotak’ serta tidak bebas bergerak. Kondisi ini diperparah dengan sebagian sikap dan nilai-nilai yang kupahami tidak semuanya sejalan. Alhasil, tidak banyak ide-ide brilian dan prestasi positif lahir dari diri ini. Yang kulakukan hanyalah survival. Dan bisa ditebak, karena konduite dan prestasiku yang biasa-biasa saja, tak banyak reward yang kuperoleh. Kenaikan gaji hanya mengikuti inflasi dan minimnya fasilitas yang dapat terpenuhi…

Sontak diri ini tersadar. Benarkah kemampuanku hanya sebatas itu ? Benarkah aku tak mampu berbuat lebih dari ini ? Kucoba telusuri, ternyata sedikitnya ini juga terjadi karena sistem. Yap, perusahaan ini hanya terdiri atas beberapa gelintir orang dan memang tidak diniatkan untuk menjadi besar. Setidaknya, itu yang kutangkap dan kusarikan dari obrolan di meeting-meeting rutin dan rekan-rekan senior. Tempat ini lebih cocok disebut sebagai perguruan untuk menggali ilmu dan memang begitulah kenyataannya. Untuk hal yang satu ini, ada hikmah positif yang kudapat. Namun, apa yang bisa kuharapkan dengan kondisi seperti ini ? …

Seiring berjalannya waktu, aku terus merenung dan mengevaluasi diri. Kuharus melakukan sesuatu. Namun, berbeda dengan orang kebanyakan, justru aku terus mengasah insting bisnisku. Sadar akan posisiku yang ’stag’ dalam berkarir, aku semakin bersemangat untuk kembali menekuni bidang ini. Berkenalan dengan pengusaha-pengusaha sukses, menghadiri seminar-seminar motivasi, pelatihan-pelatihan ukm hingga menjajal pelbagai peluang bisnis yang ada menjadi aktivitas tambahanku tahun-tahun terakhir. Jauh sebelum ini, niatanku memang akan full terjun disini, namun entah mengapa ‘kecemplung’ lagi jadi pegawai kantoran. Tapi gpp-lah, thread ini bisa dibahas nanti.

Semakin gagal, aku semakin bersemangat. Senangnya aku dikelilingi orang-orang yang selalu memiliki pikiran positif, sehingga kegagalan tidak menjadikan diri ini surut kebelakang, melainkan tetap maju kedepan. Subhanallah. Yap, timbul tekad yang kuat agar aku bisa segera menjadi seorang yang independen. Seorang yang bebas menentukan segalanya sendiri. Seorang yang bisa memberikan manfaat bagi sekitar lewat sistem usahanya, insyaAllah. Dalam setiap kesempatan, kuselalu berdoa dalam hati, ” Ya, Allah, jadikanlah hamba ini termasuk golongan Aghniya yang selalu menebar rahmat dan manfaat bagi sesama…”

Waktu terus bergulir. Alhamdulilah, perlahan namun pasti aku mulai menemukan formula yang pas untuk sistem usahaku. Urusan casflow, laporan keuangan, jual beli menjadi hal yang akrab mengisi aktivitasku belakangan ini. Dan omzet-pun mulai merangkak naik hampir mendekati total pendapatanku setahun. Subhanallah. Walau tetap perlu ada pembenahan dan perbaikan agar sistem usaha ini semakin berjalan dan fokus, aku semakin yakin dengan pilihanku ini. Dan aku harus memilih…

Menjadi pecundang atau pemenang. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa jalan yang akan kutempuh ini penuh liku dan panjang, beresiko dan perlu ketekunan serta kerja keras untuk mencapai hasil maksimal. Namun kupikir, itu lebih baik dibanding jika aku harus lebih lama lagi ‘berdiam diri’ disini. Ibarat mati segan, hidup tak mau. Kuyakin dengan pertolongan Allah untuk hambanya yang selalu meminta dan berharap hanya pada-Nya diiringi dengan kerja keras dan ikhtiar maksimal. Ada take and give. Semakin besar usaha dan ikhtiar kita, insyaAllah itu berbanding lurus dengan hasil yang akan diperoleh. Semakin banyak memberi maka semakin banyak menerima…

*Jakarta, medio Januari 2007*

Sejak berkenalan dengan Komunitas Tangan Di Atas ( TDA ), gairah bisnisku kembali menggelora. Setelah sempat meredup, hidup segan mati tak mau, terseok dan tertatih bangkit dari kegagalan demi kegagalan berbisnis, suatu waktu aku berkenalan dengan komunitas ini dan babak baru dalam sejarah kehidupanku pun dimulai…

Menjadi Tangan Diatas, itulah semangat dari komunitas yang baru kukenal kurang dari setahun ini. Memberi dan bermanfaat seluas mungkin bagi orang lain menjadi spirit besar yang menjadi dasar bergerak setiap langkah dari TDA, sebutan populer komunitas ini. Subhanallah, tentunya ini sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah, bermanfaatlah sebanyak mungkin untuk sesama…

Ibarat bola salju, spirit TDA ini terus bergulir dan otomatis jumlah anggotanya semakin membesar dari waktu ke waktu.  Di TDA, para anggota umumnya ‘terklasifikasi’ secara otomatis dengan sebutan : TDA full, semi TDA/amphibi, dan TDB/Tangan Dibawah. Wah, wah, klasifikasi macam apa ini ? Apakah ini menunjukkan status ‘kelas’ di komunitas TDA ? Apakah secara otomatis seseorang yang masih di TDB tidak lebih baik dan ‘TDA‘ dibanding dengan rekannya yang TDA full atau amphibi ?

TDA full menunjukkan seseorang yang sudah full menangani bisnisnya sendiri, memiliki sistem usaha yang established, dan yang terpenting sudah bisa menggaji orang dari hasil usahanya, makanya disebut TDA, Tangan Diatas, yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sedang semi TDA atau amphibi menunjukkan seseorang yang menjalani bisnis namun ia masih aktif bekerja di tempat lain. Umumnya, mereka masih dalam taraf merintis, belum menemukan sistem dan bentuk yang established, namun sudah bisa menggaji orang walau belum sepenuhnya dihasilkan dari hasil bisnisnya. Karena masih hidup di ‘dua kaki’, maka kerap bisnis yang dijalankan kurang bisa konsisten dan fokus untuk tetap beroperasi tanpa melepaskan status ‘TDB’-nya ditempat lain. Memang sih ada beberapa pengecualian. Beberapa rekan sukses menjalani bisnis model amphibi seperti ini, bisnis tetap berjalan sementara karir di kantor tetap menjulang…income-pun mengalir dari dua sumber, bisnis dan gaji bulanan. Tokh, tetap saja model seperti itu, masih ‘kurang sah’ untuk dinisbatkan sebagai seorang TDA sejati alias pengusaha tulen. Lain lagi dengan jenis TDB, untuk model yang satu ini, jelas ia hanya menggantungkan income dari satu sumber, gaji bulanan dan karenanya ia menyandang ‘gelar’ : Tangan DiBawah.

Nah, dari sini mulai muncul beberapa kerancuan dan persoalan. Benarkah seorang TDA sejati lebih ‘TDA’ ( memberi dan bermanfaat ) dibanding mereka yang masih ber-’status’ amphibi atau TDB ? Apakah seorang TDB tidak lebih baik dan bermanfaat dibanding mereka yang telah lebih dulu menjalani bisnis atau mulai berbisnis ? Hm, saya pikir awalnya sebagian besar kita adalah ‘TDB’. Bagaimana kita mengumpulkan sejumlah asset untuk dijadikan modal hingga kemudian bergulir membentuk sistem usaha mandiri dan jadilah kita TDA sejati alias pengusaha tulen. Lalu mengapa kita masih mempermasalahkan seseorang yang masih ber-’status’ TDB atau amphibi ? Mungkin hal itu adalah salah satu jalan bagi mereka berproses untuk menjadi TDA sejati.

Yap, salah satu tujuan dibentuknya komunitas ini diharapkan dapat menjadi akselerator bisnis menuju pengusaha sejati, insyaAllah. Status yang melekat saat ini, TDA, amphibi, atau TDB tak lebih dari penamaan belaka yang tidak ada hubungannya dengan semangat TDA yang sejak awal disinggung diatas. Menjadi TDA atau TDB/amphibi adalah pilihan. Seperti seorang pakar bisnis mengatakan, selama bisa memberikan asset yang mengalirkan income ke kocek kita, hal itu tidak menjadi masalah. Namun, persoalannya kemudian, bisakah kita membangun asset lebih besar dan fokus sementara harus bekerja di ‘dua kaki’ ? atau bisakah kita menjadi seorang ‘TDA’ tanpa harus melepaskan status ‘TDB’ ? Hal itu berpulang dalam diri masing-masing…

So, maju terus komunitas TDA !!! Perkuat dan warnai ekonomi umat dengan membangun sistem usaha mandiri sejak dini.

*Jakarta, medio January 2007*

-For all TDA-ers, selamat ber-MILAD…-

Sesuatu yang besar dimulai dari hal yang terkecil.  Kata-kata itu terngiang terus di telingaku setelah pertemuan informal dengan Pak Haji — sang empunya kios di MTA — kemarin di beranda rumahnya yang luas dan asri di bilangan Kalimalang Jakarta.

” Yakinlah bahwa Allah yang mengatur dan menjamin rejeki kalian. Jangan takut dan jangan terbelenggu dengan perasaan kalian sendiri. Allah sendiri yang akan menghantarkan rejeki untuk kita, tugas kita hanyalah menjemput dan berusaha sekeras mungkin agar rejeki itu bisa diraih…”, panjang lebar Pak Haji menjelaskan perihal hakikat rejeki dan bagaimana cara memperolehnya. Lanjutnya, ” Simaklah kisah Nabi Ibrahim. Disitu kita bisa melihat ujian keikhlasan dan kesabaran dari Allah untuk makhluknya. Berpuluh tahun ia menanti kehadiran seorang anak, setelah didapat yang ada kemudian adalah perintah Allah untuk menyembelihnya, 7 kali istri Ibrahim berkeliling Safa-Marwah demi segenggam air yang tak kunjung ditemukan…coba pikir, jika tidak karena kedekatannya dengan Allah dan keimanan yang teruji tangguh, tidak terbayangkan jadinya. Apalagi jika kita bandingkan dengan kondisi bisnis di MTA, sudah tahu demikian, masih saja nekat berdagang, tapi yakinlah bahwa Allah bersama kita, ini hanyalah proses…”. Sungguh kami terkesima dengan penuturan beliau yang tawadhu dan sarat teladan. Dikisahkan pula kilas balik perjalanan bisnis beliau hingga menjadi besar seperti ini. Semua ini proses, tidak ada yang terjadi secara instan. Pak Haji pun mengalami jatuh bangun, pahit getirnya berdagang…

Subhanallah, baru kutemukan seorang kaya yang tawadhu seperti ini. Tidak menjadi sombong dan mulia karena kelimpahan hartanya, malah semakin menjadikan dirinya dekat dengan Allah dan senantiasa memberikan manfaat bagi sekitar. Hidup bukanlah untuk makan, dan makan bukanlah untuk hidup. Keduanya salah. Proses makan hanyalah sunnatullah untuk mempertahankan hidup. Hanya Allah yang bisa menjamin mengenai hidup dan kehidupan kita. Oleh karena itu, janganlah merasa gentar jika kita bersama Allah…

Alhasil, pertemuan informal kemarin itu lebih banyak diwarnai tausyiah dan arahan yang bersifat ruhiyah ketimbang aspek teknis bisnis semata, terutama menyikapi kondisi terkini sepeutar perkembangan TDA Sepatu. Namun kami semua merasa senang dan lega bahwa pada sebenarnya Pak Haji memberikan perhatian lebih dari yang diharapkan. Dibimbingnya kami agar selalu berada di rel yang benar, dalam berbisnis plus beraqidah. Tidak hanya petunjuk bagaimana caranya menaikkan omzet bisnis semata, namun beliau menjelaskan lebih jauh dari itu. Manusia itu dibekali tiga hal yakni rasa, akal/rasio dan iman. Nah, kebanyakan manusia sekarang hanya lebih banyak menggunakan rasio/akal dan rasa-nya saja untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Satu hal yang terpenting, yakni iman — percaya dan yakin sepenuhnya pada Allah — sedikit demi sedikit terkikis. Apalagi dengan kondisi banjir informasi dan perang pemikiran seperti saat ini, sulitlah bagi kita untuk bangkit dan memenangkan ‘pertarungan’ ini. Plus kondisi ekonomi umat yang terpuruk, jadilah kita mudah sekali didikte pihak luar. Karenanya Pak Haji menekankan pentingnya penguasaan ekonomi, agar kita menjadi kuat. Islam itu agama yang syamil, menyeluruh. Tidak hanya aspek ibadah ritual semata, seperti shalat, puasa, haji, dsb melainkan meliputi juga aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi kemasyarakatan.

Karenanya kita harus kuat secara ekonomi, maka insyaAllah bidang yang lain juga akan kita kuasai. Mulailah dengan hal terkecil yang bisa dilakukan untuk menuju sebuah agenda besar yakni kemandirian ekonomi umat. The big starts small. insyaAllah.

Aku mengenalnya tidak terlalu lama, namun inilah seseorang yang ditakdirkan Allah untuk menjadi pasangan hidupku yang akan mengisi hari-hariku kedepan, suka dan duka. Medio Juni 2003, kami mengikat janji, berijab kabul di depan penghulu mengarungi samudera kehidupan yang luas…

Hingga detik ini, hampir 4 tahun usia pernikahan, kami telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang sekarang berusia 2 tahun lebih, imut, sehat dan lucu…serta — insyaAllah –kehangatan di tengah keluarga akan kembali bertambah dengan kehadiran sang baby yang kini masih dalam kandungan istriku.

Banyak orang bilang, masa-masa awal pernikahan akan terasa sangat sulit dilalui terutama 5 tahun pertama. Anggapan ini bisa jadi benar, namun bisa juga salah. Tergantung masing-masing aja yang menjalaninya. Bagi kami, ini ada benarnya juga apalagi dengan kondisi aku terutama dari segi finansial dan pekerjaan yang belum menunjukkan tanda-tanda ‘kemapanan’. Tapi, syukurlah istriku bisa memahami kondisi ini.

Hm, istriku termasuk orang yang pengertian, qanaah, sabar dan istiqomah dengan identitas kemuslimannya. Dengan jilbab rapi yang selalu menghias hari-hari, istriku tak henti berikan ilmu yang bermanfaat bagi komunitas sekitar. Tanpa banyak berkeluh, ia lakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan penuh tanggung jawab. Plus mengurus si imut Syahid yang sekarang tambah menggemaskan.  Sehari tanpa celotehannya dunia serasa sepi.. It’s really amazing…selalu ada harapan dan cinta di dalam sorot matanya yang jernih.

Terimakasih, istriku. Telah kau berikan buah kasih tercinta untuk menambah kehangatan di tengah keluarga. Buah hati yang selalu memancarkan harapan dan semangat agar aku tetap sabar dan tegar arungi kehidupan fana ini. Buah hati yang selalu hadirkan suasana riang di beranda keluarga, buah hati yag selalu menghibur di saat diri ini gundah, semoga kelak ia akan bertumbuh menjadi orang yang berguna bagi sesama.

Terimakasih, istriku. Masih banyak agenda besar dan pekerjaan rumah  yang harus kubenahi untuk membangun fondasi rumah tangga yang kokoh. Mulai dari membangun akhlaq yang kharimah dan aqidah yang kokoh hingga peningkatan ekonomi rumah tangga. Dengan tertatih dan terseok, kita tetap arungi biduk rumah tangga dengan bekal iman dan taqwa bahwa Allah pasti bersama kita. Tak henti kau kobarkan semangat istiqomah dan jangan berpaling dari-Nya. Ketika cobaan dan ujian itu selalu menghadang, dengan sabar kau nyatakan bahwa itu hanyalah sementara. Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan…

Terimakasih, istriku.  Dengan sabar dan tabah, kau tetap lalui masa-masa berat ini bersamaku. Hingga detik ini, nyaris tidak ada sesuatu yang bisa kuberikan untuk membahagiakanmu. Bahkan satu per satu harta yang kita punya ‘terlepas’ seiring waktu bergulir. Mulai hal cincin pernikahan, rumah impian yang tak kunjung terwujud, kegagalan berbisnis hingga yang teranyar, kehilangan motor yang menjadi satu-satunya ‘asset’ dalam rumah tangga kita. Namun, tak jua kau menangis meratapi itu semua. Beruntung sekali diriku mendapati seorang bidadari sepertimu. Kau tetap tegar, sabar dan selalu kobarkan semangat bahwa Allah bersama kita, apapun kondisinya. Kau yakinkan diriku pasti ada hikmah dibalik semua ujian dan cobaan yang datang silih berganti.

Dan seiring waktu bergulir, perlahan namun pasti tlah kutemukan kembali semangat baru. Yap, semangat untuk segera melakukan perubahan. Kucoba merenung dan menilai diriku sendiri. Lalu kubertanya, ” Jika yang lain bisa, mengapa saya  tidak bisa ? ” begitu kira-kira. Kucoba flashback peristiwa demi peristiwa yang terjadi 10 tahun terakhir…sedetik kemudian aku terperanjat dan kutemukan jawabannya : jadilah HARAPAN, jangan hanya ber-HARAP, lakukan action nyata segera atau tidak sama sekali…

Yap, aku harus lakukan sesuatu untuk merubah semua ini. Awal tahun masehi dan akhir tahun hijriyah, aku ( insyaAllah ) akan ukir sejarah. Sejarah yang ( mungkin ) akan merubah perjalanan kehidupanku. Ya…mungkin dalam beberapa waktu mendatang, irama kehidupan yang nine to five tak akan kujumpai lagi, aku akan bermetamorfosis menjadi seorang independen yang tak diatur jam kerja untuk seratus persen tentukan income-ku sendiri. Sekian lama diri ini ragu dan gundah apakah ini merupakan jalan yang terbaik. Kembali sang istri datang menyapa, ” Sholatlah dan bermohonlah pada-Nya untuk diberikan jalan yang terbaik…”

Terimakasih atas dukunganmu, istriku. Alhamdulilah, pada akhirnya kau juga menyetujui rencanaku ini untuk segera membangun sistem usaha mandiri. Tak henti kuyakinkan bahwa rejeki Allah itu maha luas, rejeki Allah ada dimana-mana, selama ada ikhtiar yang sungguh-sungguh, insyaAllah rejeki tak kan tertukar…subhanallah, perlahan namun pasti sistem usaha mandiri yang aku mimpikan mulai terwujud dan menampakkan hasilnya.

Terimakasih atas dukunganmu, istriku.  Bersamamu, dengan tegar dan tawakkal, kita lewati masa-masa sulit ini. Bersamamu, kusemakin dekat dan lebih mengenal Ad-Dien, kau antarkan aku untuk menjadi seorang mujahid yang selalu membela Islam, kau antarkan aku untuk melahirkan genarasi rabbani yang selalu mengenal Allah…

Terimakasih, istriku. Denganmu, kutemukan arti dan arah hidupku. Denganmu, telah hadir buah kasih tercinta yang menambah semangat hidupku untuk selalu berbuat yang terbaik. Denganmu, kutemukan arti cinta yang sesungguhnya, dimana Allah berada diatas segalanya…

-Jakarta, at the beginning of January 2007-

*Untuk istriku, selamat Ulang Tahun, Barakallah…*

Banyak orang menyambut dengan gegap gempita malam pergantian tahun. Bagiku, pergantian tahun artinya harus ada perubahan, ke arah yang lebih baik tentunya. Semua hal, dari mulai peningkatan kesejahteraan, sosial, masyarakat hingga aspek spiritual dan nilai-nilai Ilahiyah…

Ada satu ‘tagline’ ucapan selamat tahun baru 2007 yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telinga. ” Jadilah HARAPAN, jangan hanya ber-HARAP, selamat Tahun Baru 2007″. I really impressed it…

Yap, jadilah harapan, jangan hanya berharap bahwa perubahan itu akan terjadi. Kalo aku memaknainya dengan lakukanlah action yang nyata sedemikian hingga perubahan itu benar-benar terjadi, jangan berhenti sampai pada titik ‘berharap’ bahwa perubahan itu akan terjadi. Jika ingin perubahan, kita harus menjadi ’sesuatu’. To be or not to be. Waktu terus berjalan, dan ukirlah dengan hasil karya nyata yang bermanfaat, sekecil atau sebesar apapun. Bagaimana mungkin, perubahan akan terjadi jika setiap kali pergantian tahun, pola pikir, tingkah laku, akhlaq, mind set kita masih sama dengan hari-hari sebelumnya…dan bagiku, malam pergantian tahun tidak harus diiringi dengan pesta gempita, cukuplah kita isi dengan renungan, introspeksi dan susun rencana untuk segera berbenah, lakukan perubahan berarti untuk mengisi hari-hari kedepan…

InyaAllah, segundang rencana akan aku laksanakan awal-awal tahun ini untuk segera melakukan ‘perubahan’. Setelah sekian lama aku merenung, mengkaji dan menghitung ulang ‘untung ruginya’, tampaknya jawabanku sudah mantap : SEGERA LAKUKAN PERUBAHAN. Hmmm…perubahan apa sih ? Soal itu, biarlah waktu yang akan membuktikannya apakah benar perubahan itu akan terjadi. Salah satunya mungkin, irama kehidupan yang nine to five tak akan kujumpai lagi dalam beberapa waktu mendatang…saatnya kerja keras dan cerdas untuk mewujudkan impianku selama ini : To Be An Independent Person.

— to be continued —

*Jakarta, at the beginning of January 2007*

Next Page »