Pernyataan itu terus terngiang-ngiang hingga detik ini. Yap, selepas menghadiri acara Milad TDA I, kata-kata itu seolah menjadi kosakata baru yang terus meminta untuk diterjemahkan lebih lanjut. Bagaimana mungkin orang yang bangkrut dibilang keren ? hehe, ada-ada aja…
Banyak hal kudapat setelah bergabung di komunitas ini. Komunitas yang terdiri atas kumpulan orang-orang yang mendambakan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Menjadi Tangan Diatas dengan segala dimensinya. Menjadi kaya multi perspektif, harta, jiwa dan iman. Menjadi seorang independen dengan membentuk quality of life lebih maksimal, tanpa terbentur dengan irama kerja yang membosankan. Menjadikan bisnis sarana untuk berdakwah, menebar rahmat nan bermanfaat…subhanallah. Kemudian pikiranku menerawang ke beberapa waktu silam…
Entah apa yang kurasakan saat itu. Langkahku gamang, tak tentu arah harus berbuat apa. Bisnis makanan yang kurintis sekitar setahun yang lalu itu tak kunjung membuahkan hasil seperti yang kuharapkan. Yang terjadi malah sebaliknya, omzet penjualan terus menukik tajam ke titik terendah bahkan nol, jika tak bisa dibilang minus alias nombok terus. Sedikit modal yang kupunya — itupun hasil dari pinjaman kantor sebenarnya — perlahan tapi pasti ikut tergerus. Apa yang bisa kuharapkan dengan kondisi seperti ini ? Jujur saja, diri ini pusing dan bingung kala itu. Berbagai cara dan trik-trik penjualan seperti yang biasa dipraktekkan sebelumnya ternyata tak cukup ampuh untuk menaikkan penjualan. Hasilnya tetap stag, mati suri. Sempat terbersit aku akan berhenti berbisnis jika hasilnya hanyalah kegagalan demi kegagalan. Aku merasa menjadi orang yang paling malang. Seorang diri aku memasuki belantara bisnis dan hanya kegelapan yang selalu kutemui. Hingga suatu ketika…
Milis Tangan Diatas ? Apaan sih ? Karena rasa penasaran, aku beranikan diri daftar masuk jadi anggota. Olala, ternyata isinya penuh dengan postingan-postingan motivasi untuk menjadi seorang mandiri alias jangan mau jadi orang gajian terus. Dan menariknya, tidak sekedar berwacana dan berdiskusi, tapi lebih dari itu mengarahkan membernya untuk segera take action jika mau berubah. Semakin lama berinteraksi dengan para member di milis itu, perlahan rasa percaya diriku untuk kembali berbisnis mulai menyeruak. Beberapa kali kuhadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan secara spontan dan memang kurasakan ada nuansa yang beda didalamnya. Apalagi ketika aku semakin mengenal Pak Haji Ali, founder dan penggagas komunitas ini, semakin diri ini dibuat takjub karenanya. Menjadi seorang kaya namun gemar berbagi, menjadikan bisnis sebagai sarana untuk berdakwah dan menebar rahmat, subhanallah.
Kuteringat, bazaar bertajuk PKS Expo 2006 adalah action pertama yang kuikuti bersama TDA Community. Hasilnya ? karena digarap dengan passion, hasrat yang tinggi untuk segera bangkit dari ‘keterpurukan’, alhamdulilah jualan jilbab-nya kala itu laku keras. Dari sini, rasa percaya diriku mulai bangkit dan sejak itu, aku kembali ‘bergerilya’ untuk temukan kembali peluang-peluang bisnis apalagi yang bisa dibidik. Diri ini bertekad, insyaAllah suatu saat aku harus bisa menjadi seorang mandiri. Hingga pada suatu kesempatan, ada tawaran dari Pak Roni, owner TDA, bagi siapa saja yang berminat untuk mengisi kios di Metro Tanah Abang ( MTA ), tapi kali ini produknya adalah sepatu. Wah ?
Ibarat masuk hutan belantara nan pekat, kali ini bidang bisnis yang akan kumasuki benar-benar baru tapi menantang. Namun, terdorong oleh semangat dan gairah bisnisku yang kian membuncah, aku beranikan untuk mendaftar menjadi salah satu pengisi kios di MTA. Gpp-lah, learning by doing. Tokh, jika tidak dimulai nasibku akan tetap begini-begini saja : menjadi karyawan dengan segala keterbatasannya, pergi pagi pulang petang, gaji bulanan hanya naik bak keong berjalan, plus jenjang karir yang tidak menjanjikan. Aku harus bangkit dari ‘keterpurukan’, aku tidak boleh larut dalam situasi gamang, aku harus ambil keputusan. Alhamdulilah, satu modal mendasar untuk kembali memulai telah berhasil kudapatkan, kepercayaan diri dan semangat. Tinggal kini susun kembali planning yang sempat tertunda termasuk menengok kondisi finansial yang sudah mati suri pasca kegagalan berbisnis makanan tempo hari. Kini aku kembali berani bermimpi untuk someday menjadi seorang mandiri yang lewat tangannya akan semakin bisa berbagi lebih banyak serta mempunyai quality of life lebih berkualitas dalam hal beribadah dengan segala aspeknya.
Hm, sebenarnya keputusan mengambil kios ini terbilang nekat. Bagaimana tidak, pasca kegagalan berbisnis makanan tempo hari, keadaan finansial kami memprihatinkan. Nyaris tidak ada cadangan dana yang tersisa, yang ada hanyalah semangat untuk segera bangkit dari kondisi ini. Lalu darimana modal buat ngisi kios ? tidak ada yang tidak mungkin, pikirku. Mulai kulatih otak kiriku untuk segera memberikan input apa yang harus kulakukan. Aku tidak mau lagi berpikir linear, seperti yang selama ini terjadi. Kuhubungi beberapa rekan dan saudara yang mau diajak kerjasama. Alhamdulilah, segelintir dari mereka memberikan respon dan mau meminjamkan uang untuk modal. Yap, hanya segelintir dalam arti hanya satu-dua orang yang masih mau membaca dan menyimak proposalku. Kadang timbul pikiran, di dunia ini mana ada sih orang yang mau pahitnya dulu ? kalo terasa manis, baru langsung deh pada ngerubung, gumamku dalam hati. Ah, tidak. Semoga saja ini hanya persangkaanku dan aku bertekad dalam hati bahwa suatu saat aku harus menjadi seorang aghniya yang mau dan bisa memberikan manfaat untuk sesama. Singkat cerita, dengan modal kurang dari 5 juta rupiah hasil pinjaman sana-sini, aku mulai melangkah membangun kios sepatu di MTA…
Direct selling disela-sela rutinitas harian ke komunitas kantor, lingkungan tetangga, pengajian, aktif ‘beroperasi’ di bazaar-bazaar dan pasar kaget musiman, hingga iseng-iseng bikin blog gratisan untuk toko online ABINYA menjadi kesibukan tambahanku belakangan ini. Sekarang nyaris setiap minggu aku fokuskan untuk jualan produk ABINYA agar makin dikenal. Ngegelar dagangan bak pedagang kaki lima menjadi menu tambahan pengganti acara weekend. Kemanapun aku pergi, tak lupa kubawa kartu nama toko ABINYA sebagai promo bahwa aku sudah punya toko. ( hehe, padahal masih gratisan, gpp-lah nebeng nama dulu, bener kata Pak Haji tanpa disadari status sosial kita ikut ‘terangkat’ lho dengan berjualan di Tanahabang. ). Waktu pun terus bergulir…
Subhanallah, tanda-tanda cerah kini mulai nampak. Walaupun traffic pengunjung di MTA masih belum sesuai harapan, namun beberapa order telah berhasil kudapat dan pertumbuhan omzet tetap stabil bahkan terus meningkat setiap waktu. Hal ini terjadi terutama ditopang dari penjualan online kami. Alhamdulilah, lewat promosi gratisan di iklan-iklan baris plus sistem direct mail ke email-email rekanan, perlahan toko online ABINYA mulai dikenal. Dari leads-leads yang masuk, beberapa berhasil closing. Tercatat beberapa daerah seperti NTB, NTT, Bali, Palembang, Padang, Semarang, Cilacap, Surabaya menjadi tujuan pengiriman produk grosir ABINYA. Bahkan yang saat ini sedang dalam proses, pesanan khusus dari Kanada. Subhanallah. Semoga saja order dari Kanada ini dapat terlayani dengan baik, karena ini termasuk pesanan besar dan berpeluang buatku untuk melakukan ekspor, insyaALLAH. ( kapan-kapan, aku cerita yah soal orderan dari Kanada ini, coz it’s my first experience, hehe ).
Yap, walau masih terseok dalam mengembalikan pinjaman yang tersisa akibat ‘warisan’ kegagalan berbisnis makanan tempo hari, kini langkahku semakin mantap untuk fokus menggarap ini. Kurasakan aku tidak lagi merasa seorang diri dalam berbisnis. Kini aku mempunyai sebuah komunitas dimana berisi orang-orang berkualitas yang senantiasa memberikan energi positif bagi pengembangan diri ini. Aku telah mempunyai networking dimana aku bisa belajar bagaimana membangun sebuah sistem bisnis yang mandiri. Tapi perjalanan masih panjang. Kuyakin akan semakin banyak onak dan duri yang akan kutemui, bahkan mungkin lebih dahsyat rintangannya dari yang kuduga. Namun, entah kudapat kekuatan dari mana, semakin rasa takut itu menggelayut dalam diri, semakin kuat keinginan untuk segera berbenah : menjadi seorang mandiri yang aghniya dan gemar berbagi…
Kutercenung, every cloud has a silver lining. Perlahan, kini hikmah-hikmah dari serentetan peristiwa-peristiwa dua tahun terakhir mulai ditampakkan. Allahu Akbar. Aku hanya tetap berdoa, semoga ALLAH tidak menjadikan diri ini lupa ketika aku benar-benar diamanahkan untuk menjadi seorang Tangan Diatas dalam segala dimensinya.
Dedicated for my wife and fam, thanks for ur support…
-Jakarta, at the beginning of February-