February 2007


Sungguh surprise hari ini…hari terakhir di IMX, sambutannya diluar dugaan, hehe. Gimana nggak, bos besar berinisiatif makan siang bersama demi mengucapkan selamat tinggal buat seorang YH. Waks ? Subhanallah, aku merasa tersanjung. Jarang-jarang banget…

Alhamdulilah, secara umum performance kerjaku selama bergabung di IMX dinilai baik walaupun bukan tanpa cela. Bahkan dibilang kalo aku tuh contoh ideal untuk karyawan yang akan meninggalkan tempat dimana selama ini dia mengabdi. Wow, how’s suprise, WW bisa bilang kayak gitu. Nyaris tanpa conflict interest, walau tetap ada beberapa perbedaan, namun itu bukanlah hal yang prinsipil. Punya perencanaan kedepan yang baik dengan sistem usaha mandiri yang sedang berjalan, plus mampu ‘mencuri ilmu’ selama bergabung disini…

Yap, sungguh aku terkesima. As a human, WW itu baik dan saya sangat menghormatinya. However, selama 4 tahun terakhir saya telah menjadi bagian dari IMX dan mengambil manfaat darinya. Dari sinilah awalnya saya berkenalan dengan beberapa komunitas yang kelak mengubah mindset, wawasan hingga ke perilaku bekerja. Bahkan ilmu-ilmu yang kudapat dari sini diam-diam aku aplikasikan dalam kehidupan pribadiku. Sebagai contoh kecil, misalnya nge-blog, cara menulis, dst, seperti saat ini.

Hmm, memang benar. Hukum Ketertarikan, the law of attraction. Kita adalah seperti apa yang kita pikirkan. Kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Pandanglah lingkungan dengan positif, insyaAllah energi positif akan menjalari sekujur tubuh kita dan semesta mendukung atas semua apa yang ada dalam diri kita. Pasrah, ikhlas, fokus, berbaik sangka/positif thinking, merupakan aplikasi dari Law of Attraction. Dan sebagai muslim, hal ini sangatlah selaras dengan apa yang digariskan dalam Qur’an…akhlak yang baik tentu akan berbuah baik, insyaAllah.

Kini aku merasa lega. Aku telah berhasil membuat keputusan untuk memulai lembaran baru, berikhtiar untuk menjadi yang terbaik dan menebar sebanyak mungkin manfaat bagi orang lain. Dan IMX, menjadi saksi bisu titik awal perubahan arah perjalanan hidupku…

– Jakarta, 28 Februari 2007 –

Dear all,

Tak terasa sudah lebih dari 4 tahun ya saya bergabung di IMX. Banyak banget hal yang alami disini, dari suka duka, manis getir…walau saya belum ( atau tidak ? ) berkontribusi banyak untuk kemajuan IMX, namun saya senang bergabung didalamnya. Disini saya bisa belajar banyak hal, mulai dari praktek ilmu PR hingga gimana caranya nge-blog, hehe.

IMX itu unik. Terasa ada nuansa lain pas pertama saya bergabung disini. Jika selama ini saya rasakan kerja dengan segudang target setiap bulan yang harus dipenuhi, disini kondisi sebaliknya terjadi. Justru masing-masing pribadi diberikan kebebasan berkreasi tentunya yang sesuai dengan culture IMX…:-). Pokoknya sip banget deh. Pengecualian kali ya kalo IMX lagi penuh sama deadline-deadline project, beberapa friksi dan konflik antar IMX-ers juga kerap terjadi, kalo buat saya sih itu biasa, digalakin, dicuekin, dijutekin…take it easy aja, hehe. Buktinya tokh, hampir 4 tahun saya betah bergabung disini, at least menandakan ada nuansa yang memang membuat saya nyaman. Namun tak bisa dipungkiri, ditengah nuansa nyaman yang saya rasakan itu, ada kegalauan yang menghantui saya beberapa saat tahun terakhir. Yap, semuanya berujung pada satu pertanyaan : akan kemanakah saya ? haruskan saya ‘berhenti’ sampai disini ? menikmati hari-hari dengan minim prestasi ? Hm, bukan apa-apa sih, saya rasakan semakin hari ruang gerak saya semakin sempit jika saya masih bergabung disini. Dengan kesibukan saya diluar yang semakin intens, rasanya kok seperti kurang maksimal jika saya harus tetap hidup di ‘dua kaki’. Awalnya gamang saya memutuskan ini, namun tokh tetap harus saya ambil, saya harus pergi untuk merancang masa depan yang lebih pasti…

Sungguh, suatu kesenangan ( plus tantangan ? hehe ) tersendiri ketika bergabung di IMX. Sebuah organisasi kecil dimana interaksi antar anggotanya terjalin begitu kental, IMX itu jaringan, kapanpun dimanapun pasti kita bisa terlibat didalamnya…hehe, bener gak sih ? Dan saya pun ( dulu sempat ) merasa bangga pernah bergabung didalamnya. It’s really unique and amazing…

Yap, insyaAllah mulai besok Kamis, 01 Maret 2007, babak baru dalam sejarah kehidupan saya akan dimulai. At least, pola kerja yang nine to five tak lagi saya temui dan ini juga yang bikin agak lega : selamat tinggal kemacetan pagi hari…:-). Saya akan buat sendiri ’small home office’ di rumah. Memberdayakan komunitas sekitar, itulah impian saya, insyaAllah. Bersama tim, saya juga akan mengerjakan beberapa project dengan visi serupa.

Terimakasih atas waktu-waktu kebersamaan kita selama ini. Melalui media blog ini, ijinkan saya memberikan sedikit ‘overview‘ buat anggota IMX-ers :

to WW : Terimakasih telah memberikan kesempatan dan pelajaran mengenai banyak hal melalui tulisan-tulisannya di blog perspektif. WW itu demokratis walau sedikit narcis, maafff…

to EI, CL, WT, LH : Terimakasih atas bimbingannya yah selama ini. EI yang bijak dan sabar plus seneng banget kalo diajak sharing soal perkembangan anak…CL yang tegas, galak tapi padahal perhatian lho ama semua orang…WT yang baik tapi cerewetnya minta ampun…LH yang cool, smart  tapi tahan banting ( special thanks for u, saya sudah punya account utk trf nih skrg, hehe ).

to DH : Terimakasih untuk tetap setia mentransfer gaji saya selama ini…ingat tanggal 28, pasti nama Mbak Yani yang duluan dicari…hehe. Thanks for the support ya, Mbak terutama untuk request2 khusus itu, hehe.

to RA, HW, HM, MA, RN, MW, SM, IP, MS, SK, SN, JN, DS : thanks for everything. Speechless deh, sepertinya tuh sinetron OB di RCTI banyak miripnya di IMX…hehe. ada tukang gosip, tukang provokator, tukang marah-marah, bawel…:-p. Komplit. RA yang teliti tapi suka jutekin juga kalo lagi klaim obat kagak keluar-keluar…HW yang suka gak sabaran tapi sebenarnya seneng berbagi ( suka nawarin roti kalo pagi, hehe, cepat sembuh ya, how, jangan makan mie terus. ) …MA yang baik hati tapi suka banget keluyuran naik turun tangga dari lantai 3 sampe lantai 1 ( gile, gak capek tuh bolak-balik turun tangga, Ro ? hehe )…HM yang — tampangnya sih — kebapakan tapi suka banget ama yang bikin pikiran jadi kotor ( hiii, jijay deh, parno, parno )…RN yang kalem bawaannya tapi belum berjodoh juga ( semoga cepat dapet yang pas yah, makanya sikat aja langsung kalo ada yang klop, jangan pake acara pacaran lagi, hehe )…MW yang awalnya sih malu-malu tapi lama-lama ketahuan deh do’i rada-rada centil ( hehe, maaf yah mel )…SM yang perfeksionis tapi mau membantu orang…IP yang suka nyablak ama siapapun dan gak kenal malu, hehe…MS yang hapal banget jalan tikus ( kapan-kapan mau nih dianter keliling Jkt, hehe )…SK yang tampak alim tapi suka ‘melenceng’ juga ( hehe…abisan sholatnya rada-rada aneh gitu, bro…kembalilah ke jalan yang benar…:p )…SN yang sudah sepuh tapi suka sok jago kalo cerita, hehe….JN yang kesannya galak banget tapi suka baik juga kadang-kadang…terakhir DS yang sangat hapal berita-berita gosip terkini termasuk gosip antar IMX-ers tapi suka baik gratisin masakannya ( kalo gak laku, hehe ).  

Yap, itulah sekelumit perjalanan saya di IMX. Mohon maaf yang setulus dan seikhlas-ikhlasnya jika selama berinteraksi dengan saya ada salah, khilaf, baik yang disengaja atau  tidak. insyaAllah memori kebersamaan saya di IMX tak kan pernah lekang, karena honestly, dari sinilah babak baru dalam sejarah kehidupan saya berawal : menjadi seorang profesional mandiri yang bervisi…

Saya berharap semoga IMX akan tetap jaya dan dikenang sebagai sebuah tempat yang ( insyaAllah ) akan melahirkan orang-orang yang mempunyai visi besar. Seperti lilin, dia akan terus menerangi tanpa pernah merasakan indahnya terang…

Selamat tinggal IMX, saya akan tutup lembaran denganmu mulai hari ini dan menjalani hari dengan semangat dan visi yang baru…

— Jakarta, At the end of February 2007 —

Tulisan ini saya posting berkaitan dengan mulai banyaknya kelompok
Mastermind TDA yang terbentuk.

*Road map* yang berasal dari buku *The Secrets of Self Made Millionaire*-nya
Adam Khoo <http://adam-khoo.com/>, ini dijadikan acuan oleh kelompok TDA
Mastermind saya. Setiap pertemuan kami selalu membahas dan mengevaluasi
pelaksanaan dari *road map* ini.

Road map ini begitu sederhana, mudah dicerna dan *applicable*. Inilah
hebatnya Adam Khoo. Dia bisa membuat benang merah dari semua teori-teori
yang ada menjadi sederhana dan praktis.

Road map ini dinamakan *7 Steps to Financial Abundances*, yaitu:

1. *Mindset*, sekali lagi soal *mindset*. Ini adalah sumber dari semua cara
berpikir dan pola tindakan kita. Ini harus diberesin dulu, kata Adam Khoo.
Orang yang sudah *take action*, tapi gagal terus, biasanya gara-gara salah
di mind set ini. Beruntunglah, di TDA kita punya kurikulum DSA (Dreams,
Strategy, Action). Lengkap. Apa *lagi besok kita mau nonton bareng film **The
Secret* <http://thesecret.tv/>*, yang banyak bicara soal pikiran dan*mindset.

2. *Goals*. Ya, kita harus punya tujuan yang jelas. Ini juga bakal
disinggung di film The Secret. Tentukan *goals* yang jelas. Kalau tidak ada
goals yang jelas bisa jadi kita kehilangan arah dalam mencapainya.

3. *Financial Plan*. Setelah *goals*-nya jelas, maka diperlukan *financial
plan* bagaimana itu semua bisa dicapai. Di bukunya dengan jelas dipaparkan
bagaimana cara-cara itu. Sangat-sangat praktis. Makanya, saya sebut buku ini
seperti *manual book*. Tinggal ikutin aja *step-step*nya. http://bradsugars.com/>atau Action Business Coach masuk.
Bagaimana meningkatkan omzet dan profit bisnis secara mudah dan sederhana.

*By the way*, bagaimana omzet dan profit usaha anda saat ini? FYI, per
Februari ini keuntungan bisnis saya meningkat tajam, lho. Alhamdulillah.

5. *Reduce Expense*. Ini juga harus dilakukan. Jangan hanya memperbesar nincome tapi boros dan akhirnya bangkrut juga. Di sini kita diharuskan untuk
selalu berusaha menekan pengeluaran. *Live below your mean*, hidup
sederhana.
Di kelompok mastermind saya, ada cerita menarik. Ada salah satu anggotanya
yang saking ngototnya mempraktekkan ini, sampai menahan keinginannya makan
coklat. Sampai-sampai isi kulkasnya pun dikurangi drastis. Saya sih kurang
setuju. Perut jangan sampai dikorbankan. Tapi, intinya adalah gaya hidup
hemat tanpa mengorbankan pengeluaran yang memang diperlukan. Tetap harus
menikmati hidup, menurut saya.

6. *Grow*. Nah ini juga harus dilakukan. Kalau sudah terkumpul uangnya,
harus direncanakan pertumbuhannya. Makanya dalam kelompok mastermind saya
juga dibicarakan tentang investasi.

Salah satunya adalah dengan mengundang Pak Budi Rachmat, Pak Joseph Hartanto
untuk sharing berbagi ilmu mengenai investasi dan bisnis propertinya.
Alhamdulillah, saya dan teman-teman sudah mempraktekkan ilmu ini.

Saham, bisnis, danareksa juga menjadi pilihan yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan pertumbuhan aset kita. Oya, jangan lupa lakukan aset alokasi,
pesan Pak Tung DW.

7. *Protect*. Aset kita harus aman. Caranya? Bisa lewat asuransi, bantuan
hukum, jasa pengelola aset dan sebagainya. Banyak lho, orang yang pintar
mengumpulkan tapi tidak di*protec*t. Akhirnya amblas begitu aja.

Oya, mungkin yang nggak disinggung oleh Adam Khoo adalah *the power of”,1] ); //–>

4. *Increase Income*. Ini yang menarik. Nah, di sinilah ilmunya Brad
Sugars<http://bradsugars.com/>atau Action Business Coach masuk.
Bagaimana meningkatkan omzet dan profit
bisnis secara mudah dan sederhana.

*By the way*, bagaimana omzet dan profit usaha anda saat ini? FYI, per
Februari ini keuntungan bisnis saya meningkat tajam, lho. Alhamdulillah.

5. *Reduce Expense*. Ini juga harus dilakukan. Jangan hanya memperbesar
income tapi boros dan akhirnya bangkrut juga. Di sini kita diharuskan untuk
selalu berusaha menekan pengeluaran. *Live below your mean*, hidup
sederhana.

Di kelompok mastermind saya, ada cerita menarik. Ada salah satu anggotanya
yang saking ngototnya mempraktekkan ini, sampai menahan keinginannya makan
coklat. Sampai-sampai isi kulkasnya pun dikurangi drastis. Saya sih kurang
setuju. Perut jangan sampai dikorbankan. Tapi, intinya adalah gaya hidup
hemat tanpa mengorbankan pengeluaran yang memang diperlukan. Tetap harus
menikmati hidup, menurut saya.

6. *Grow*. Nah ini juga harus dilakukan. Kalau sudah terkumpul uangnya,
harus direncanakan pertumbuhannya. Makanya dalam kelompok mastermind saya
juga dibicarakan tentang investasi.

Salah satunya adalah dengan mengundang Pak Budi Rachmat, Pak Joseph Hartanto
untuk sharing berbagi ilmu mengenai investasi dan bisnis propertinya.
Alhamdulillah, saya dan teman-teman sudah mempraktekkan ilmu ini.

Saham, bisnis, danareksa juga menjadi pilihan yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan pertumbuhan aset kita. Oya, jangan lupa lakukan aset alokasi,
pesan Pak Tung DW.

7. *Protect*. Aset kita harus aman. Caranya? Bisa lewat asuransi, bantuan
hukum, jasa pengelola aset dan sebagainya. Banyak lho, orang yang pintar
mengumpulkan tapi tidak di*protec*t. Akhirnya amblas begitu aja.

Oya, mungkin yang nggak disinggung oleh Adam Khoo adalah *the power of giving*. Ini kita sudah tau, lah. Shodaqoh, zakat, infaq adalah investasi
dunia akhirat dengan tingkat pengembalian yang tidak terhitung jumlahnya.
Ya, ketujuh langkah *plus the power of giving* itu adalah langkah yang akan
mengantarkan kita menjadi TDA seutuhnya.Kepada kelompok mastermind yang sudah terbentuk, selamat memulai. Ini
sekedar masukan dari saya. Semoga bermanfaat.

Salam FUUUNtastic!
Silaturahmi membawa rezeki

Wassalam,
Roni

Pernyataan itu terus terngiang-ngiang hingga detik ini. Yap, selepas menghadiri acara Milad TDA I, kata-kata itu seolah menjadi kosakata baru yang terus meminta untuk diterjemahkan lebih lanjut. Bagaimana mungkin orang yang bangkrut dibilang keren ? hehe, ada-ada aja…

Banyak hal kudapat setelah bergabung di komunitas ini. Komunitas yang terdiri atas kumpulan orang-orang yang mendambakan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Menjadi Tangan Diatas dengan segala dimensinya. Menjadi kaya multi perspektif, harta, jiwa dan iman. Menjadi seorang independen dengan membentuk quality of life lebih maksimal, tanpa terbentur dengan irama kerja yang membosankan.  Menjadikan bisnis sarana untuk berdakwah, menebar rahmat nan bermanfaat…subhanallah. Kemudian pikiranku menerawang ke beberapa waktu silam…

Entah apa yang kurasakan saat itu. Langkahku gamang, tak tentu arah harus berbuat apa. Bisnis makanan yang kurintis sekitar setahun yang lalu itu tak kunjung membuahkan hasil seperti yang kuharapkan. Yang terjadi malah sebaliknya, omzet penjualan terus menukik tajam ke titik terendah bahkan nol, jika tak bisa dibilang minus alias nombok terus. Sedikit modal yang kupunya — itupun hasil dari pinjaman kantor sebenarnya — perlahan tapi pasti ikut tergerus. Apa yang bisa kuharapkan dengan kondisi seperti ini ? Jujur saja, diri ini pusing dan bingung kala itu. Berbagai cara dan trik-trik penjualan seperti yang biasa dipraktekkan sebelumnya ternyata tak cukup ampuh untuk menaikkan penjualan. Hasilnya tetap stag, mati suri. Sempat terbersit aku akan berhenti berbisnis jika hasilnya hanyalah kegagalan demi kegagalan. Aku merasa menjadi orang yang paling malang. Seorang diri aku memasuki belantara bisnis dan hanya kegelapan yang selalu kutemui. Hingga suatu ketika…

Milis Tangan Diatas ? Apaan sih ? Karena rasa penasaran, aku beranikan diri daftar masuk jadi anggota. Olala, ternyata isinya penuh dengan postingan-postingan motivasi untuk menjadi seorang mandiri alias jangan mau jadi orang gajian terus. Dan menariknya, tidak sekedar berwacana dan berdiskusi, tapi lebih dari itu mengarahkan membernya untuk segera take action jika mau berubah. Semakin lama berinteraksi dengan para member di milis itu, perlahan rasa percaya diriku untuk kembali berbisnis mulai menyeruak. Beberapa kali kuhadiri pertemuan-pertemuan yang diadakan secara spontan dan memang kurasakan ada nuansa yang beda didalamnya. Apalagi ketika aku semakin mengenal Pak Haji Ali, founder dan penggagas komunitas ini, semakin diri ini dibuat takjub karenanya. Menjadi seorang kaya namun gemar berbagi, menjadikan bisnis sebagai sarana untuk berdakwah dan menebar rahmat, subhanallah.

Kuteringat, bazaar bertajuk PKS Expo 2006 adalah action pertama yang kuikuti bersama TDA Community. Hasilnya ? karena digarap dengan passion, hasrat yang tinggi untuk segera bangkit dari ‘keterpurukan’, alhamdulilah jualan jilbab-nya kala itu laku keras. Dari sini, rasa percaya diriku mulai bangkit dan sejak itu, aku kembali ‘bergerilya’ untuk temukan kembali peluang-peluang bisnis apalagi yang bisa dibidik. Diri ini bertekad, insyaAllah suatu saat aku harus bisa menjadi seorang mandiri. Hingga pada suatu kesempatan, ada tawaran dari Pak Roni, owner TDA, bagi siapa saja yang berminat untuk mengisi kios di Metro Tanah Abang ( MTA ), tapi kali ini produknya adalah sepatu. Wah ?

Ibarat masuk hutan belantara nan pekat, kali ini bidang bisnis yang akan kumasuki benar-benar baru tapi menantang. Namun, terdorong oleh semangat dan gairah bisnisku yang kian membuncah, aku beranikan untuk mendaftar menjadi salah satu pengisi kios di MTA. Gpp-lah, learning by doing. Tokh, jika tidak dimulai nasibku akan tetap begini-begini saja : menjadi karyawan dengan segala keterbatasannya, pergi pagi pulang petang, gaji bulanan hanya naik bak keong berjalan, plus jenjang karir yang tidak menjanjikan. Aku harus bangkit dari ‘keterpurukan’, aku tidak boleh larut dalam situasi gamang, aku harus ambil keputusan. Alhamdulilah, satu modal mendasar untuk kembali memulai telah berhasil kudapatkan, kepercayaan diri dan semangat. Tinggal kini susun kembali planning yang sempat tertunda termasuk menengok kondisi finansial yang sudah mati suri pasca kegagalan berbisnis makanan tempo hari. Kini aku kembali berani bermimpi untuk someday menjadi seorang mandiri yang lewat tangannya akan semakin bisa berbagi lebih banyak serta mempunyai quality of life lebih berkualitas dalam hal beribadah dengan segala aspeknya.

Hm, sebenarnya keputusan mengambil kios ini terbilang nekat. Bagaimana tidak, pasca kegagalan berbisnis makanan tempo hari, keadaan finansial kami memprihatinkan. Nyaris tidak ada cadangan dana yang tersisa, yang ada hanyalah semangat untuk segera bangkit dari kondisi ini. Lalu darimana modal buat ngisi kios ? tidak ada yang tidak mungkin, pikirku. Mulai kulatih otak kiriku untuk segera memberikan input apa yang harus kulakukan. Aku tidak mau lagi berpikir linear, seperti yang selama ini terjadi. Kuhubungi beberapa rekan dan saudara yang mau diajak kerjasama. Alhamdulilah, segelintir dari mereka memberikan respon dan mau meminjamkan uang untuk modal. Yap, hanya segelintir dalam arti hanya satu-dua orang yang masih mau membaca dan menyimak proposalku. Kadang timbul pikiran, di dunia ini mana ada sih orang yang mau pahitnya dulu ? kalo terasa manis, baru langsung deh pada ngerubung, gumamku dalam hati. Ah, tidak. Semoga saja ini hanya persangkaanku dan aku bertekad dalam hati bahwa suatu saat aku harus menjadi seorang aghniya yang mau dan bisa memberikan manfaat untuk sesama. Singkat cerita, dengan modal kurang dari 5 juta rupiah hasil pinjaman sana-sini, aku mulai melangkah membangun kios sepatu di MTA…

Direct selling disela-sela rutinitas harian ke komunitas kantor, lingkungan tetangga, pengajian, aktif ‘beroperasi’ di bazaar-bazaar dan pasar kaget musiman, hingga iseng-iseng bikin blog gratisan untuk toko online ABINYA menjadi kesibukan tambahanku belakangan ini. Sekarang nyaris setiap minggu aku fokuskan untuk jualan produk ABINYA agar makin dikenal. Ngegelar dagangan bak pedagang kaki lima menjadi menu tambahan pengganti acara weekend. Kemanapun aku pergi, tak lupa kubawa kartu nama toko ABINYA sebagai promo bahwa aku sudah punya toko. ( hehe, padahal masih gratisan, gpp-lah nebeng nama dulu, bener kata Pak Haji tanpa disadari status sosial kita ikut ‘terangkat’ lho dengan berjualan di Tanahabang. ). Waktu pun terus bergulir…

Subhanallah, tanda-tanda cerah kini mulai nampak. Walaupun traffic pengunjung di MTA masih belum sesuai harapan, namun beberapa order telah berhasil kudapat dan pertumbuhan omzet tetap stabil bahkan terus meningkat setiap waktu. Hal ini terjadi terutama ditopang dari penjualan online kami. Alhamdulilah, lewat promosi gratisan di iklan-iklan baris plus sistem direct mail ke email-email rekanan, perlahan toko online ABINYA mulai dikenal. Dari leads-leads yang masuk, beberapa berhasil closing. Tercatat beberapa daerah seperti NTB, NTT, Bali, Palembang, Padang, Semarang, Cilacap, Surabaya menjadi tujuan pengiriman produk grosir ABINYA. Bahkan yang saat ini sedang dalam proses, pesanan khusus dari Kanada. Subhanallah. Semoga saja order dari Kanada ini dapat terlayani dengan baik, karena ini termasuk pesanan besar dan berpeluang buatku untuk melakukan ekspor, insyaALLAH. ( kapan-kapan, aku cerita yah soal orderan dari Kanada ini, coz it’s my first experience, hehe ).

Yap, walau masih terseok dalam mengembalikan pinjaman yang tersisa akibat ‘warisan’ kegagalan berbisnis makanan tempo hari, kini langkahku semakin mantap untuk fokus menggarap ini. Kurasakan aku tidak lagi merasa seorang diri dalam berbisnis. Kini aku mempunyai sebuah komunitas dimana berisi orang-orang berkualitas yang senantiasa memberikan energi positif bagi pengembangan diri ini. Aku telah mempunyai networking dimana aku bisa belajar bagaimana membangun sebuah sistem bisnis yang mandiri. Tapi perjalanan masih panjang. Kuyakin akan semakin banyak onak dan duri yang akan kutemui, bahkan mungkin lebih dahsyat rintangannya dari yang kuduga. Namun, entah kudapat kekuatan dari mana, semakin rasa takut itu menggelayut dalam diri, semakin kuat keinginan untuk segera berbenah : menjadi seorang mandiri yang aghniya dan gemar berbagi…

Kutercenung, every cloud has a silver lining. Perlahan, kini hikmah-hikmah dari serentetan peristiwa-peristiwa dua tahun terakhir mulai ditampakkan. Allahu Akbar. Aku hanya tetap berdoa, semoga ALLAH tidak menjadikan diri ini lupa ketika aku benar-benar diamanahkan untuk menjadi seorang Tangan Diatas dalam segala dimensinya.

Dedicated for my wife and fam, thanks for ur support…

-Jakarta, at the beginning of February-