January 2007


Teman saya mengajukan suatu pertanyaan: Apakah dalam
Al Quran ada contoh doa untuk minta kaya? Tentu ini
“debatable”, ada yang tegas mengatakan secara textual
tidak ada, namun ada yang mengatakan secara contextual
jelas ada, misalnya apakah doa Sulaiman minta kerajaan
seperti berikut termasuk memohon kekayaan atau tidak?
:”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah
kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun
sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”
(QS Shaad: 35). Bayangkan, Nabi Sulaiman, minta
kerajaan yang “tidak dimiliki oleh siapa pun
sesudahku”. Silahkan dipahami dengan ilmu masing2.
Kita juga tidak dapat mengingkari bahwa, berbagai
contoh doa yang ada dalam Al Quran (yang truly
various) mengindikasikan bahwa kita dapat berdoa untuk
keperluan apapun. Termasuk yang ingin kaya.

Tapi lepas dari doa, tentu juga kita harus melakukan
sesuatu untuk mencapai apa yang kita inginkan. Dan Al
Quran penuh inspirasi untuk sukses. Berikut beberapa
points yang ingin saya share:

1. Berserah diri.Pengalaman saya sebagai
“wiraswastawan”, mengajarkan bahwa untuk soal rejeki
dan kekayaan mau tidak mau kita hanya bisa berserah
kepada Allah. Sewaktu saya masih karyawan, tinggal
nunggu setiap tanggal 25 rejeki pasti datang. Jumlah
nya pasti lagi. Tapi ketika menjadi wiraswastawan,
sungguh, saya tidak tahu berapa rejeki yang akan saya
terima, dan kapan. Hanya Allah yang tahu. Disinilah
muncul derajat kepasrahan tertentu. Aku sekedar
berusaha, biar Allah yang putuskan hasilnya. Karena no
matter how hard I try, kalo belum rejeki nya malah gak
dapet2. Sebaliknya kadang2 yang dicuekin malah datang
sendiri. Ini betul2 cerminan dari ayat berikut:“Dan
bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan
kecukupan”, (QS. An Najm 53:48)

2. Bersyukur.Selain, berserah, pengalaman kedua adalah
menyangkut bersyukur. Tidak tahu kenapa, dengan selalu
mensyukuri berapapun rejeki yang kita peroleh,
alhamdulillah selalu dimudahkan dalam mendapatkan
sumber2 rejeki berikutnya.”Dan ketika Tuhanmu
memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti
Kami akan menambah (nikmat) kepadamu ….” (QS.
Ibrahim: 7)

3. Tabah dalam menghadapi masalah.Namanya usaha,
masalah selalu ada. Ditolak prospek. Musti bayar
tagihan. Tagihan kita ke customer gak dibayar2. Dan
sebagainya. Tapi percaya deh, itu semua proses yang
harus dilalui, dan Allah akan memberikan jalan keluar.
“Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia
akan mengadakan jalan keluar baginya dan memberinya
rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya”. (QS.
Ath-Thalaq : 2-3)

4. Jangan “ingin kaya” tapi bersikaplah kaya.Hehehe …
mungkin sedikit membingungkan. “Ingin kaya” itu
menjebak. Biasanya akhirnya malah bersikap takut
kehilangan, pelit, negative dan sebagainya. Padahal
itu bukan “sikap” yang kaya. Orang “kaya” sejati tidak
takut kehilangan harta nya. Toh nanti bisa cari lagi.
Dan pasti ikhlas memberi, karena percaya Allah masih
akan kasih lagi.”Dan barang apa saja yang kamu
nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dialah
sebaik-baiknya Pemberi rizki”. (QS. Saba : 39)

5. Tidak mengulang kesalahan.Selalu memperbaiki diri.
Kalau pernah melakukan kesalahan, mohon ampun dan
jangan diulang. InsyaAllah dengan begini customer dan
partner selalu sayang sama kita. Walhasil kita
diibanyakkan rejeki.”Maka aku katakan kepada mereka,
mohon ampunlah kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu
dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu
dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan
(pula didalamnya) sungai-sungai”. (QS Nuh : 10-12)

* Disadur dari postingan rekan Fauzi Rachmanto, member of TDA Community *

 

Semakin lama waktu berjalan, aku merasakan seperti tidak ada perubahan yang berarti dalam keseharian. Berangkat kerja, pergi pagi, bermacet-macet di jalan, melakukan aktivitas rutin, cek dan kirim email berita, hingga jelang sore bersiap-siap lagi pulang ke rumah dan kembali bermacet-macet di jalan sampai matahari tenggelam di peraduan…

Kerap perasaan jenuh dan bosan menyapa namun hal ini tetap kulakukan walaupun kusadar kondisi ini akan terus berlanjut kecuali aku segera melakukan langkah perubahan. Yap, sekilas kita longok kondisi kerjaku saat ini. Bisa jadi semua ini terjadi karena diri ini yang kurang berkompeten atau bisa jadi pula ini semata karena sistem. Entahlah. Tahun-tahun pertama aku masih berusaha untuk belajar, beradaptasi dan memahami kondisi di lingkungan kerja. Aku senang dan merasa nyaman karena bidang pekerjaan ini sesuai dengan keinginanku selama ini, menjadi seseorang yang berkarya di dunia PR, suatu bidang yang ( katanya ) sedang booming tahun-tahun terakhir. Bidang yang ( mestinya ) dapat kujadikan sandaran untuk kehidupanku kelak. Namun, seiring waktu berjalan, perlahan harapanku terkikis sedikit demi sedikit. Kurasakan, aku semakin terkucilkan dan ‘masuk kotak’ serta tidak bebas bergerak. Kondisi ini diperparah dengan sebagian sikap dan nilai-nilai yang kupahami tidak semuanya sejalan. Alhasil, tidak banyak ide-ide brilian dan prestasi positif lahir dari diri ini. Yang kulakukan hanyalah survival. Dan bisa ditebak, karena konduite dan prestasiku yang biasa-biasa saja, tak banyak reward yang kuperoleh. Kenaikan gaji hanya mengikuti inflasi dan minimnya fasilitas yang dapat terpenuhi…

Sontak diri ini tersadar. Benarkah kemampuanku hanya sebatas itu ? Benarkah aku tak mampu berbuat lebih dari ini ? Kucoba telusuri, ternyata sedikitnya ini juga terjadi karena sistem. Yap, perusahaan ini hanya terdiri atas beberapa gelintir orang dan memang tidak diniatkan untuk menjadi besar. Setidaknya, itu yang kutangkap dan kusarikan dari obrolan di meeting-meeting rutin dan rekan-rekan senior. Tempat ini lebih cocok disebut sebagai perguruan untuk menggali ilmu dan memang begitulah kenyataannya. Untuk hal yang satu ini, ada hikmah positif yang kudapat. Namun, apa yang bisa kuharapkan dengan kondisi seperti ini ? …

Seiring berjalannya waktu, aku terus merenung dan mengevaluasi diri. Kuharus melakukan sesuatu. Namun, berbeda dengan orang kebanyakan, justru aku terus mengasah insting bisnisku. Sadar akan posisiku yang ’stag’ dalam berkarir, aku semakin bersemangat untuk kembali menekuni bidang ini. Berkenalan dengan pengusaha-pengusaha sukses, menghadiri seminar-seminar motivasi, pelatihan-pelatihan ukm hingga menjajal pelbagai peluang bisnis yang ada menjadi aktivitas tambahanku tahun-tahun terakhir. Jauh sebelum ini, niatanku memang akan full terjun disini, namun entah mengapa ‘kecemplung’ lagi jadi pegawai kantoran. Tapi gpp-lah, thread ini bisa dibahas nanti.

Semakin gagal, aku semakin bersemangat. Senangnya aku dikelilingi orang-orang yang selalu memiliki pikiran positif, sehingga kegagalan tidak menjadikan diri ini surut kebelakang, melainkan tetap maju kedepan. Subhanallah. Yap, timbul tekad yang kuat agar aku bisa segera menjadi seorang yang independen. Seorang yang bebas menentukan segalanya sendiri. Seorang yang bisa memberikan manfaat bagi sekitar lewat sistem usahanya, insyaAllah. Dalam setiap kesempatan, kuselalu berdoa dalam hati, ” Ya, Allah, jadikanlah hamba ini termasuk golongan Aghniya yang selalu menebar rahmat dan manfaat bagi sesama…”

Waktu terus bergulir. Alhamdulilah, perlahan namun pasti aku mulai menemukan formula yang pas untuk sistem usahaku. Urusan casflow, laporan keuangan, jual beli menjadi hal yang akrab mengisi aktivitasku belakangan ini. Dan omzet-pun mulai merangkak naik hampir mendekati total pendapatanku setahun. Subhanallah. Walau tetap perlu ada pembenahan dan perbaikan agar sistem usaha ini semakin berjalan dan fokus, aku semakin yakin dengan pilihanku ini. Dan aku harus memilih…

Menjadi pecundang atau pemenang. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa jalan yang akan kutempuh ini penuh liku dan panjang, beresiko dan perlu ketekunan serta kerja keras untuk mencapai hasil maksimal. Namun kupikir, itu lebih baik dibanding jika aku harus lebih lama lagi ‘berdiam diri’ disini. Ibarat mati segan, hidup tak mau. Kuyakin dengan pertolongan Allah untuk hambanya yang selalu meminta dan berharap hanya pada-Nya diiringi dengan kerja keras dan ikhtiar maksimal. Ada take and give. Semakin besar usaha dan ikhtiar kita, insyaAllah itu berbanding lurus dengan hasil yang akan diperoleh. Semakin banyak memberi maka semakin banyak menerima…

*Jakarta, medio Januari 2007*

Sejak berkenalan dengan Komunitas Tangan Di Atas ( TDA ), gairah bisnisku kembali menggelora. Setelah sempat meredup, hidup segan mati tak mau, terseok dan tertatih bangkit dari kegagalan demi kegagalan berbisnis, suatu waktu aku berkenalan dengan komunitas ini dan babak baru dalam sejarah kehidupanku pun dimulai…

Menjadi Tangan Diatas, itulah semangat dari komunitas yang baru kukenal kurang dari setahun ini. Memberi dan bermanfaat seluas mungkin bagi orang lain menjadi spirit besar yang menjadi dasar bergerak setiap langkah dari TDA, sebutan populer komunitas ini. Subhanallah, tentunya ini sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah, bermanfaatlah sebanyak mungkin untuk sesama…

Ibarat bola salju, spirit TDA ini terus bergulir dan otomatis jumlah anggotanya semakin membesar dari waktu ke waktu.  Di TDA, para anggota umumnya ‘terklasifikasi’ secara otomatis dengan sebutan : TDA full, semi TDA/amphibi, dan TDB/Tangan Dibawah. Wah, wah, klasifikasi macam apa ini ? Apakah ini menunjukkan status ‘kelas’ di komunitas TDA ? Apakah secara otomatis seseorang yang masih di TDB tidak lebih baik dan ‘TDA‘ dibanding dengan rekannya yang TDA full atau amphibi ?

TDA full menunjukkan seseorang yang sudah full menangani bisnisnya sendiri, memiliki sistem usaha yang established, dan yang terpenting sudah bisa menggaji orang dari hasil usahanya, makanya disebut TDA, Tangan Diatas, yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Sedang semi TDA atau amphibi menunjukkan seseorang yang menjalani bisnis namun ia masih aktif bekerja di tempat lain. Umumnya, mereka masih dalam taraf merintis, belum menemukan sistem dan bentuk yang established, namun sudah bisa menggaji orang walau belum sepenuhnya dihasilkan dari hasil bisnisnya. Karena masih hidup di ‘dua kaki’, maka kerap bisnis yang dijalankan kurang bisa konsisten dan fokus untuk tetap beroperasi tanpa melepaskan status ‘TDB’-nya ditempat lain. Memang sih ada beberapa pengecualian. Beberapa rekan sukses menjalani bisnis model amphibi seperti ini, bisnis tetap berjalan sementara karir di kantor tetap menjulang…income-pun mengalir dari dua sumber, bisnis dan gaji bulanan. Tokh, tetap saja model seperti itu, masih ‘kurang sah’ untuk dinisbatkan sebagai seorang TDA sejati alias pengusaha tulen. Lain lagi dengan jenis TDB, untuk model yang satu ini, jelas ia hanya menggantungkan income dari satu sumber, gaji bulanan dan karenanya ia menyandang ‘gelar’ : Tangan DiBawah.

Nah, dari sini mulai muncul beberapa kerancuan dan persoalan. Benarkah seorang TDA sejati lebih ‘TDA’ ( memberi dan bermanfaat ) dibanding mereka yang masih ber-’status’ amphibi atau TDB ? Apakah seorang TDB tidak lebih baik dan bermanfaat dibanding mereka yang telah lebih dulu menjalani bisnis atau mulai berbisnis ? Hm, saya pikir awalnya sebagian besar kita adalah ‘TDB’. Bagaimana kita mengumpulkan sejumlah asset untuk dijadikan modal hingga kemudian bergulir membentuk sistem usaha mandiri dan jadilah kita TDA sejati alias pengusaha tulen. Lalu mengapa kita masih mempermasalahkan seseorang yang masih ber-’status’ TDB atau amphibi ? Mungkin hal itu adalah salah satu jalan bagi mereka berproses untuk menjadi TDA sejati.

Yap, salah satu tujuan dibentuknya komunitas ini diharapkan dapat menjadi akselerator bisnis menuju pengusaha sejati, insyaAllah. Status yang melekat saat ini, TDA, amphibi, atau TDB tak lebih dari penamaan belaka yang tidak ada hubungannya dengan semangat TDA yang sejak awal disinggung diatas. Menjadi TDA atau TDB/amphibi adalah pilihan. Seperti seorang pakar bisnis mengatakan, selama bisa memberikan asset yang mengalirkan income ke kocek kita, hal itu tidak menjadi masalah. Namun, persoalannya kemudian, bisakah kita membangun asset lebih besar dan fokus sementara harus bekerja di ‘dua kaki’ ? atau bisakah kita menjadi seorang ‘TDA’ tanpa harus melepaskan status ‘TDB’ ? Hal itu berpulang dalam diri masing-masing…

So, maju terus komunitas TDA !!! Perkuat dan warnai ekonomi umat dengan membangun sistem usaha mandiri sejak dini.

*Jakarta, medio January 2007*

-For all TDA-ers, selamat ber-MILAD…-

Sesuatu yang besar dimulai dari hal yang terkecil.  Kata-kata itu terngiang terus di telingaku setelah pertemuan informal dengan Pak Haji — sang empunya kios di MTA — kemarin di beranda rumahnya yang luas dan asri di bilangan Kalimalang Jakarta.

” Yakinlah bahwa Allah yang mengatur dan menjamin rejeki kalian. Jangan takut dan jangan terbelenggu dengan perasaan kalian sendiri. Allah sendiri yang akan menghantarkan rejeki untuk kita, tugas kita hanyalah menjemput dan berusaha sekeras mungkin agar rejeki itu bisa diraih…”, panjang lebar Pak Haji menjelaskan perihal hakikat rejeki dan bagaimana cara memperolehnya. Lanjutnya, ” Simaklah kisah Nabi Ibrahim. Disitu kita bisa melihat ujian keikhlasan dan kesabaran dari Allah untuk makhluknya. Berpuluh tahun ia menanti kehadiran seorang anak, setelah didapat yang ada kemudian adalah perintah Allah untuk menyembelihnya, 7 kali istri Ibrahim berkeliling Safa-Marwah demi segenggam air yang tak kunjung ditemukan…coba pikir, jika tidak karena kedekatannya dengan Allah dan keimanan yang teruji tangguh, tidak terbayangkan jadinya. Apalagi jika kita bandingkan dengan kondisi bisnis di MTA, sudah tahu demikian, masih saja nekat berdagang, tapi yakinlah bahwa Allah bersama kita, ini hanyalah proses…”. Sungguh kami terkesima dengan penuturan beliau yang tawadhu dan sarat teladan. Dikisahkan pula kilas balik perjalanan bisnis beliau hingga menjadi besar seperti ini. Semua ini proses, tidak ada yang terjadi secara instan. Pak Haji pun mengalami jatuh bangun, pahit getirnya berdagang…

Subhanallah, baru kutemukan seorang kaya yang tawadhu seperti ini. Tidak menjadi sombong dan mulia karena kelimpahan hartanya, malah semakin menjadikan dirinya dekat dengan Allah dan senantiasa memberikan manfaat bagi sekitar. Hidup bukanlah untuk makan, dan makan bukanlah untuk hidup. Keduanya salah. Proses makan hanyalah sunnatullah untuk mempertahankan hidup. Hanya Allah yang bisa menjamin mengenai hidup dan kehidupan kita. Oleh karena itu, janganlah merasa gentar jika kita bersama Allah…

Alhasil, pertemuan informal kemarin itu lebih banyak diwarnai tausyiah dan arahan yang bersifat ruhiyah ketimbang aspek teknis bisnis semata, terutama menyikapi kondisi terkini sepeutar perkembangan TDA Sepatu. Namun kami semua merasa senang dan lega bahwa pada sebenarnya Pak Haji memberikan perhatian lebih dari yang diharapkan. Dibimbingnya kami agar selalu berada di rel yang benar, dalam berbisnis plus beraqidah. Tidak hanya petunjuk bagaimana caranya menaikkan omzet bisnis semata, namun beliau menjelaskan lebih jauh dari itu. Manusia itu dibekali tiga hal yakni rasa, akal/rasio dan iman. Nah, kebanyakan manusia sekarang hanya lebih banyak menggunakan rasio/akal dan rasa-nya saja untuk bertindak dan melakukan sesuatu. Satu hal yang terpenting, yakni iman — percaya dan yakin sepenuhnya pada Allah — sedikit demi sedikit terkikis. Apalagi dengan kondisi banjir informasi dan perang pemikiran seperti saat ini, sulitlah bagi kita untuk bangkit dan memenangkan ‘pertarungan’ ini. Plus kondisi ekonomi umat yang terpuruk, jadilah kita mudah sekali didikte pihak luar. Karenanya Pak Haji menekankan pentingnya penguasaan ekonomi, agar kita menjadi kuat. Islam itu agama yang syamil, menyeluruh. Tidak hanya aspek ibadah ritual semata, seperti shalat, puasa, haji, dsb melainkan meliputi juga aspek sosial, budaya, politik, dan ekonomi kemasyarakatan.

Karenanya kita harus kuat secara ekonomi, maka insyaAllah bidang yang lain juga akan kita kuasai. Mulailah dengan hal terkecil yang bisa dilakukan untuk menuju sebuah agenda besar yakni kemandirian ekonomi umat. The big starts small. insyaAllah.

Aku mengenalnya tidak terlalu lama, namun inilah seseorang yang ditakdirkan Allah untuk menjadi pasangan hidupku yang akan mengisi hari-hariku kedepan, suka dan duka. Medio Juni 2003, kami mengikat janji, berijab kabul di depan penghulu mengarungi samudera kehidupan yang luas…

Hingga detik ini, hampir 4 tahun usia pernikahan, kami telah dikaruniai seorang anak laki-laki yang sekarang berusia 2 tahun lebih, imut, sehat dan lucu…serta — insyaAllah –kehangatan di tengah keluarga akan kembali bertambah dengan kehadiran sang baby yang kini masih dalam kandungan istriku.

Banyak orang bilang, masa-masa awal pernikahan akan terasa sangat sulit dilalui terutama 5 tahun pertama. Anggapan ini bisa jadi benar, namun bisa juga salah. Tergantung masing-masing aja yang menjalaninya. Bagi kami, ini ada benarnya juga apalagi dengan kondisi aku terutama dari segi finansial dan pekerjaan yang belum menunjukkan tanda-tanda ‘kemapanan’. Tapi, syukurlah istriku bisa memahami kondisi ini.

Hm, istriku termasuk orang yang pengertian, qanaah, sabar dan istiqomah dengan identitas kemuslimannya. Dengan jilbab rapi yang selalu menghias hari-hari, istriku tak henti berikan ilmu yang bermanfaat bagi komunitas sekitar. Tanpa banyak berkeluh, ia lakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan penuh tanggung jawab. Plus mengurus si imut Syahid yang sekarang tambah menggemaskan.  Sehari tanpa celotehannya dunia serasa sepi.. It’s really amazing…selalu ada harapan dan cinta di dalam sorot matanya yang jernih.

Terimakasih, istriku. Telah kau berikan buah kasih tercinta untuk menambah kehangatan di tengah keluarga. Buah hati yang selalu memancarkan harapan dan semangat agar aku tetap sabar dan tegar arungi kehidupan fana ini. Buah hati yang selalu hadirkan suasana riang di beranda keluarga, buah hati yag selalu menghibur di saat diri ini gundah, semoga kelak ia akan bertumbuh menjadi orang yang berguna bagi sesama.

Terimakasih, istriku. Masih banyak agenda besar dan pekerjaan rumah  yang harus kubenahi untuk membangun fondasi rumah tangga yang kokoh. Mulai dari membangun akhlaq yang kharimah dan aqidah yang kokoh hingga peningkatan ekonomi rumah tangga. Dengan tertatih dan terseok, kita tetap arungi biduk rumah tangga dengan bekal iman dan taqwa bahwa Allah pasti bersama kita. Tak henti kau kobarkan semangat istiqomah dan jangan berpaling dari-Nya. Ketika cobaan dan ujian itu selalu menghadang, dengan sabar kau nyatakan bahwa itu hanyalah sementara. Dibalik kesulitan, pasti ada kemudahan…

Terimakasih, istriku.  Dengan sabar dan tabah, kau tetap lalui masa-masa berat ini bersamaku. Hingga detik ini, nyaris tidak ada sesuatu yang bisa kuberikan untuk membahagiakanmu. Bahkan satu per satu harta yang kita punya ‘terlepas’ seiring waktu bergulir. Mulai hal cincin pernikahan, rumah impian yang tak kunjung terwujud, kegagalan berbisnis hingga yang teranyar, kehilangan motor yang menjadi satu-satunya ‘asset’ dalam rumah tangga kita. Namun, tak jua kau menangis meratapi itu semua. Beruntung sekali diriku mendapati seorang bidadari sepertimu. Kau tetap tegar, sabar dan selalu kobarkan semangat bahwa Allah bersama kita, apapun kondisinya. Kau yakinkan diriku pasti ada hikmah dibalik semua ujian dan cobaan yang datang silih berganti.

Dan seiring waktu bergulir, perlahan namun pasti tlah kutemukan kembali semangat baru. Yap, semangat untuk segera melakukan perubahan. Kucoba merenung dan menilai diriku sendiri. Lalu kubertanya, ” Jika yang lain bisa, mengapa saya  tidak bisa ? ” begitu kira-kira. Kucoba flashback peristiwa demi peristiwa yang terjadi 10 tahun terakhir…sedetik kemudian aku terperanjat dan kutemukan jawabannya : jadilah HARAPAN, jangan hanya ber-HARAP, lakukan action nyata segera atau tidak sama sekali…

Yap, aku harus lakukan sesuatu untuk merubah semua ini. Awal tahun masehi dan akhir tahun hijriyah, aku ( insyaAllah ) akan ukir sejarah. Sejarah yang ( mungkin ) akan merubah perjalanan kehidupanku. Ya…mungkin dalam beberapa waktu mendatang, irama kehidupan yang nine to five tak akan kujumpai lagi, aku akan bermetamorfosis menjadi seorang independen yang tak diatur jam kerja untuk seratus persen tentukan income-ku sendiri. Sekian lama diri ini ragu dan gundah apakah ini merupakan jalan yang terbaik. Kembali sang istri datang menyapa, ” Sholatlah dan bermohonlah pada-Nya untuk diberikan jalan yang terbaik…”

Terimakasih atas dukunganmu, istriku. Alhamdulilah, pada akhirnya kau juga menyetujui rencanaku ini untuk segera membangun sistem usaha mandiri. Tak henti kuyakinkan bahwa rejeki Allah itu maha luas, rejeki Allah ada dimana-mana, selama ada ikhtiar yang sungguh-sungguh, insyaAllah rejeki tak kan tertukar…subhanallah, perlahan namun pasti sistem usaha mandiri yang aku mimpikan mulai terwujud dan menampakkan hasilnya.

Terimakasih atas dukunganmu, istriku.  Bersamamu, dengan tegar dan tawakkal, kita lewati masa-masa sulit ini. Bersamamu, kusemakin dekat dan lebih mengenal Ad-Dien, kau antarkan aku untuk menjadi seorang mujahid yang selalu membela Islam, kau antarkan aku untuk melahirkan genarasi rabbani yang selalu mengenal Allah…

Terimakasih, istriku. Denganmu, kutemukan arti dan arah hidupku. Denganmu, telah hadir buah kasih tercinta yang menambah semangat hidupku untuk selalu berbuat yang terbaik. Denganmu, kutemukan arti cinta yang sesungguhnya, dimana Allah berada diatas segalanya…

-Jakarta, at the beginning of January 2007-

*Untuk istriku, selamat Ulang Tahun, Barakallah…*

Banyak orang menyambut dengan gegap gempita malam pergantian tahun. Bagiku, pergantian tahun artinya harus ada perubahan, ke arah yang lebih baik tentunya. Semua hal, dari mulai peningkatan kesejahteraan, sosial, masyarakat hingga aspek spiritual dan nilai-nilai Ilahiyah…

Ada satu ‘tagline’ ucapan selamat tahun baru 2007 yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telinga. ” Jadilah HARAPAN, jangan hanya ber-HARAP, selamat Tahun Baru 2007″. I really impressed it…

Yap, jadilah harapan, jangan hanya berharap bahwa perubahan itu akan terjadi. Kalo aku memaknainya dengan lakukanlah action yang nyata sedemikian hingga perubahan itu benar-benar terjadi, jangan berhenti sampai pada titik ‘berharap’ bahwa perubahan itu akan terjadi. Jika ingin perubahan, kita harus menjadi ’sesuatu’. To be or not to be. Waktu terus berjalan, dan ukirlah dengan hasil karya nyata yang bermanfaat, sekecil atau sebesar apapun. Bagaimana mungkin, perubahan akan terjadi jika setiap kali pergantian tahun, pola pikir, tingkah laku, akhlaq, mind set kita masih sama dengan hari-hari sebelumnya…dan bagiku, malam pergantian tahun tidak harus diiringi dengan pesta gempita, cukuplah kita isi dengan renungan, introspeksi dan susun rencana untuk segera berbenah, lakukan perubahan berarti untuk mengisi hari-hari kedepan…

InyaAllah, segundang rencana akan aku laksanakan awal-awal tahun ini untuk segera melakukan ‘perubahan’. Setelah sekian lama aku merenung, mengkaji dan menghitung ulang ‘untung ruginya’, tampaknya jawabanku sudah mantap : SEGERA LAKUKAN PERUBAHAN. Hmmm…perubahan apa sih ? Soal itu, biarlah waktu yang akan membuktikannya apakah benar perubahan itu akan terjadi. Salah satunya mungkin, irama kehidupan yang nine to five tak akan kujumpai lagi dalam beberapa waktu mendatang…saatnya kerja keras dan cerdas untuk mewujudkan impianku selama ini : To Be An Independent Person.

— to be continued —

*Jakarta, at the beginning of January 2007*