Kuterdiam lemas. Lama kuamati sekeliling area parkir. Benar, motorku sudah raib. Sangat yakin aku taruh motor itu tepat di pojokan karena bolak-balik aku turun dari tribun pintu V stadion utama Senayan, kudapati motor itu masih ada. Terakhir turun untuk memastikan kembali karena akan segera pulang, rasanya seluruh persendian ini lemas bukan kepalang. MasyaAllah, motorku telah hilang. Inna lillahi waa inna ilaihi roji’un…
Senayan, Minggu, 12 Nopember 2006 sore – jelang dinihari
Berboncengan dengan Kak Diah, saudara sepupu, kususuri jalan masuk menuju stadion utama Senayan.
Ada acara bazaar disana dalam rangka memeriahkan ulang tahun PORPI ke-25. Aku akan menitipkan sejumlah produk sepatu dan tas untuk dijual di stand milik Mbak Aurora, — seorang kenalan yang belakangan akrab menjadi rekan bisnis khusus dalam hal penjualan di event bazaar –. Kali ini aku memutuskan untuk kembali menitipkan barang di stand beliau dengan harapan semoga ini bisa membantu penjualan di toko kami.
Tiba di pintu masuk Gelora Senayan dari arah Jl. Sudirman, seperti biasa aku langsung disodori karcis parkir dan bayar 1000 rupiah. Namun, agak aneh karena plat nomornya tidak dicantumkan di karcis tersebut. Tak apalah, mungkin ini sistemnya lain, pikirku kemudian. Agak lama putar-putar stadion untuk cari tempat parkir yang pas, akhirnya kuputuskan untuk memarkir motor di sebuah tempat dekat pintu V karena kulihat disana sudah banyak motor dan mobil diparkir, jadi kurasa cukup aman. Terlihat ada petugas berseragam namun aku tidak bisa memastikan apakah itu penjaga parkir resmi atau siapa karena memang baru pertama kalinya aku parkir motor di dalam area stadion. Segera setelah kupastikan kembali motor dalam keadaan terkunci double, sambil membawa sejumlah produk sepatu tambahan, bersama Kak Diah kususuri lorong demi lorong di lantai 2 stadion untuk mencari stand milik Mbak Aurora. Alhamdulilah, akhirnya kutemukan juga stand milik beliau. Tampak sepatu, tas, aksesori dan beberapa lukisan sudah mulai tertata di stand ini. Baguslah, semoga penjualan kali ini juga lumayan, harapku, mengingat dari klaim panitia, bahwa peserta ultah PORPI yang akan hadir bisa mencapai ribuan orang dari seluruh
Indonesia dan mancanegara…ini masih klaim lho.
Sekilas kuperhatikan sekeliling, memang banyak sekali orang-orang hilir mudik masuk area stadion dan sesekali mengintip stand-stand bazaar yang ada. Hmm, karena bazaar ini hanya berlangsung sore hingga malam, ya terpaksa aku tunggu sampai selesai, supaya barang bisa langsung diambil. Setelah lelah berkeliling arena bazaar, akhirnya kami berdua memutuskan duduk di dalam stadion sembari nonton acara ulang tahun PORPI. Seru juga sih, apalagi dengan demo senam-senam pernapasannya yang lumayan bikin seger…
Sesekali kutengok stand-nya Mbak Aurora, oh, masih ramai. Padahal, jujur saja, diri ini sudah tak tahan pengen segera pulang. Sambil menunggu, aku terus bolak-balik dari tribun ke bawah untuk memperhatikan motorku masih tetap berada ditempat. Terakhir kulihat selepas sholat maghrib, alhamdulilah motorku masih terparkir manis di pojokan. Lalu aku naik keatas lagi untuk menonton acara yang masih berlangsung. Beberapa saat kemudian, aku turun lagi untuk mencari makanan di luar stadion, kutengok lagi tempat motor, alhamdulilah masih ada. Sampai kemudian aku tak begitu memperhatikan hingga jelang acara berakhir. Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tampak beberapa kelompok rombongan Ultah PORPI meninggalkan stadion, beberapa lainnya masih bertahan didalam karena masih ada acara tersisa. Begitupun di arena bazaar, sebagian stand ada yang sudah tutup, beberapa masih buka. Hm…dari pengakuan peserta bazaar sih, transaksi bazaar ini tergolong sepi walau peserta ribuan, namun ternyata itu bukan jaminan penjualan bakal ramai. Bahkan untuk kategori stand makanan dan minuman saja – yang biasanya langsung diserbu pengunjung bazaar – juga tak luput dari sepinya penjualan ini. Tapi, olala, sedikit berbeda dengan yang lain, stand-nya Mbak Aurora boleh dibilang cukup ramai. Ini terbukti dengan omzet penjualan malam itu yang mencapai hampir 1 juta. Ya, setidaknya ini sudah cukup menggembirakan kami terutama jika dibandingkan dengan stand-stand sejenis yang hanya memperoleh omzet di kisaran 100-300 ribu. Alhamdulilah, beberapa tas koleksi kami juga laku terjual…
Beberapa saat aku ngobrol dengan suaminya Mbak Aurora tentang hal-ikhwah bazaar tersebut hingga akhirnya pembicaraan berujung pada parkiran di Senayan. “ Parkiran disini cukup rawan, lho jika tidak ekstra hati-hati, “ ujarnya. Degh…seketika aku teringat motorku yang masih terparkir di dekat pintu V. Nanar mata ini menatap….benar saja, tak kutemukan motor berjenis Honda Supra Fit dihadapanku. Setengah tak percaya, kucoba berkeliling ke area sekitar, tetap tak kutemukan…tanya-tanya ke orang-orang di sekeliling, jawabannya sama : Tidak Ada yang Tahu. Lalu ke satpam, polisi patroli…tetap saja nihil. Lama kuterdiam, sambil terduduk lemas akhirnya sontak tersadar : Motor telah hilang…Inna Lillahi.
“ Ya Allah, cobaan apalagi yang Kau timpakan pada kami, “ lirih aku berucap. Sambil mengenai barang-barang bazaar, jauh di lubuk hati ini menjerit. “ Apa salahku ya, Allah, jangan Kau timpakan pada kami cobaan yang kami tidak sanggup memikulnya…”
Diantar suaminya Mbak Aurora menuju pos polisi terdekat, ternyata penderitaanku belum berakhir malam itu. Karena barang-barang bazaar masih banyak, rasanya tak mungkin jika tidak menyewa taksi. Namun, naik taksi dengan kondisi kalut seperti ini juga bukan solusi yang pas, karena saya harus urus segera
surat kehilangan motor ke polsek terdekat. Mana HP low bat lagi, malam semakin pekat, wartel sudah banyak yang tutup. Akhirnya, dengan pinjaman HP dari seorang polisi, kucoba hubungi Kakak yang di Depok untuk segera meluncur ke Stadion Senayan menjemput kami. Tak berapa lama, dengan sisa tenaga yang ada, aku disibukkan untuk mengurus
surat keterangan hilang ke polsek terdekat hingga jelang dinihari…
Sawangan, Senin, 13 Nopember 2006, Dinihari
Dengan langkah gontai, aku masuk rumah. Kuketuk pintu dan tak berapa lama sang istri sudah menyambut didepan. Terasa lelah yang amat sangat, fisik dan mental. Kucoba bertahan dan tegar menghadapi semua ini, menceritakan kronologis kejadian ke istri tercinta hingga jelang subuh. Alhamdulilah, sang istri dapat memahami kondisi ini dan berusaha meyakinkan aku bahwa pasti ada hikmah dibalik semua ini. Namun, sepertinya rasa haru dan tangis tak kuasa lagi kutahan, ketika anakku Syahid, 2,5 tahun, menghambur dan mendekat ke arahku ketika dia bangun tidur pagi hari, dan berkata, “ Motor Syahid mana, Bi…??? Abi cihhh…”, dengan polos ia berujar. Seketika air mataku tumpah tak tertahankan. “ Nak, maafkan Abi yah. Doakan semoga motornya cepat kembali dan bisa ajak Syahid jalan-jalan lagi keliling pake motor, “ ucapku lirih di telinganya dengan air mata yang semakin menderas…