November 2006


Hari-hari belakangan, pikiranku terus saja tertuju pada bagaimana caranya menghidupkan dan memberikan ‘darah’ buat perputaran barang di toko ABINYA. Dari mulai promosi offline semisal bazaar-bazaar, direct selling, sampai sekarang promosi online. Wah, apalagi nih ?

Iya, maksudnya promosi yang dilakukan di dunia virtual, internet dengan menggunakan website, blog, dll, dsb. Coba saja tengok blog yang barusan dibikin di http://grosir-sepatu.blogspot.com , cuma masih belum jadi banget sih…semoga cepat kelar dalam waktu dekat. Lagian aku juga mesti provide foto-foto sepatu yang oke dong…model-sepatu-outlook-3.jpg

Kuterdiam lemas. Lama kuamati sekeliling area parkir. Benar, motorku sudah raib. Sangat yakin aku taruh motor itu tepat di pojokan karena bolak-balik aku turun dari tribun pintu V stadion utama Senayan, kudapati motor itu masih ada. Terakhir turun untuk memastikan kembali karena akan segera pulang, rasanya seluruh persendian ini lemas bukan kepalang. MasyaAllah, motorku telah hilang. Inna lillahi waa inna ilaihi roji’un…

 

 

Senayan, Minggu, 12 Nopember 2006 sore – jelang dinihari

 

Berboncengan dengan Kak Diah, saudara sepupu, kususuri jalan masuk menuju stadion utama Senayan.
Ada acara bazaar disana dalam rangka memeriahkan ulang tahun PORPI ke-25. Aku akan menitipkan sejumlah produk sepatu dan tas untuk dijual di stand milik Mbak Aurora, — seorang kenalan yang belakangan akrab menjadi rekan bisnis khusus dalam hal penjualan di event bazaar –. Kali ini aku memutuskan untuk kembali menitipkan barang di stand beliau dengan harapan semoga ini bisa membantu penjualan di toko kami.

 

Tiba di pintu masuk Gelora Senayan dari arah Jl. Sudirman, seperti biasa aku langsung disodori karcis parkir dan bayar 1000 rupiah. Namun, agak aneh karena plat nomornya tidak dicantumkan di karcis tersebut. Tak apalah, mungkin ini sistemnya lain, pikirku kemudian. Agak lama putar-putar stadion untuk cari tempat parkir yang pas, akhirnya kuputuskan untuk memarkir motor di sebuah tempat dekat pintu V karena kulihat disana sudah banyak motor dan mobil diparkir, jadi kurasa cukup aman. Terlihat ada petugas berseragam namun aku tidak bisa memastikan apakah itu penjaga parkir resmi atau siapa karena memang baru pertama kalinya aku parkir motor di dalam area stadion. Segera setelah kupastikan kembali motor dalam keadaan terkunci double, sambil membawa sejumlah produk sepatu tambahan, bersama Kak Diah kususuri lorong demi lorong di lantai 2 stadion untuk mencari stand milik Mbak Aurora. Alhamdulilah, akhirnya kutemukan juga stand milik beliau. Tampak sepatu, tas, aksesori dan beberapa lukisan sudah mulai tertata di stand ini. Baguslah, semoga penjualan kali ini juga lumayan, harapku, mengingat dari klaim panitia, bahwa peserta ultah PORPI yang akan hadir bisa mencapai ribuan orang dari seluruh
Indonesia dan mancanegara…ini masih klaim lho.

Sekilas kuperhatikan sekeliling, memang banyak sekali orang-orang hilir mudik masuk area stadion dan sesekali mengintip stand-stand bazaar yang ada. Hmm, karena bazaar ini hanya berlangsung sore hingga malam, ya terpaksa aku tunggu sampai selesai, supaya barang bisa langsung diambil. Setelah lelah berkeliling arena bazaar, akhirnya kami berdua memutuskan duduk di dalam stadion sembari nonton acara ulang tahun PORPI. Seru juga sih, apalagi dengan demo senam-senam pernapasannya yang lumayan bikin seger…

 

Sesekali kutengok stand-nya Mbak Aurora, oh, masih ramai. Padahal, jujur saja, diri ini sudah tak tahan pengen segera pulang. Sambil menunggu, aku terus bolak-balik dari tribun ke bawah untuk memperhatikan motorku masih tetap berada ditempat. Terakhir kulihat selepas sholat maghrib, alhamdulilah motorku masih terparkir manis di pojokan. Lalu aku naik keatas lagi untuk menonton acara yang masih berlangsung. Beberapa saat kemudian, aku turun lagi untuk mencari makanan di luar stadion, kutengok lagi tempat motor, alhamdulilah masih ada. Sampai kemudian aku tak begitu memperhatikan hingga jelang acara berakhir. Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tampak beberapa kelompok rombongan Ultah PORPI meninggalkan stadion, beberapa lainnya masih bertahan didalam karena masih ada acara tersisa. Begitupun di arena bazaar, sebagian stand ada yang sudah tutup, beberapa masih buka. Hm…dari pengakuan peserta bazaar sih, transaksi bazaar ini tergolong sepi walau peserta ribuan, namun ternyata itu bukan jaminan penjualan bakal ramai. Bahkan untuk kategori stand makanan dan minuman saja – yang biasanya langsung diserbu pengunjung bazaar – juga tak luput dari sepinya penjualan ini. Tapi, olala, sedikit berbeda dengan yang lain, stand-nya Mbak Aurora boleh dibilang cukup ramai. Ini terbukti dengan omzet penjualan malam itu yang mencapai hampir 1 juta. Ya, setidaknya ini sudah cukup menggembirakan kami terutama jika dibandingkan dengan stand-stand sejenis yang hanya memperoleh omzet di kisaran 100-300 ribu. Alhamdulilah, beberapa tas koleksi kami juga laku terjual…

 

Beberapa saat aku ngobrol dengan suaminya Mbak Aurora tentang hal-ikhwah bazaar tersebut hingga akhirnya pembicaraan berujung pada parkiran di Senayan. “ Parkiran disini cukup rawan, lho jika tidak ekstra hati-hati, “ ujarnya. Degh…seketika aku teringat motorku yang masih terparkir di dekat pintu V. Nanar mata ini menatap….benar saja, tak kutemukan motor berjenis Honda Supra Fit dihadapanku. Setengah tak percaya, kucoba berkeliling ke area sekitar, tetap tak kutemukan…tanya-tanya ke orang-orang di sekeliling, jawabannya sama : Tidak Ada yang Tahu. Lalu ke satpam, polisi patroli…tetap saja nihil. Lama kuterdiam, sambil terduduk lemas akhirnya sontak tersadar : Motor telah hilang…Inna Lillahi.

 

“ Ya Allah, cobaan apalagi yang Kau timpakan pada kami, “ lirih aku berucap. Sambil mengenai barang-barang bazaar, jauh di lubuk hati ini menjerit. “ Apa salahku ya, Allah, jangan Kau timpakan pada kami cobaan yang kami tidak sanggup memikulnya…”

Diantar suaminya Mbak Aurora menuju pos polisi terdekat, ternyata penderitaanku belum berakhir malam itu. Karena barang-barang bazaar masih banyak, rasanya tak mungkin jika tidak menyewa taksi. Namun, naik taksi dengan kondisi kalut seperti ini juga bukan solusi yang pas, karena saya harus urus segera
surat kehilangan motor ke polsek terdekat. Mana HP low bat lagi, malam semakin pekat, wartel sudah banyak yang tutup. Akhirnya, dengan pinjaman HP dari seorang polisi, kucoba hubungi Kakak yang di Depok untuk segera meluncur ke Stadion Senayan menjemput kami. Tak berapa lama, dengan sisa tenaga yang ada, aku disibukkan untuk mengurus
surat keterangan hilang ke polsek terdekat hingga jelang dinihari…

 

 

Sawangan, Senin, 13 Nopember 2006, Dinihari

 

Dengan langkah gontai, aku masuk rumah. Kuketuk pintu dan tak berapa lama sang istri sudah menyambut didepan. Terasa lelah yang amat sangat, fisik dan mental. Kucoba bertahan dan tegar menghadapi semua ini, menceritakan kronologis kejadian ke istri tercinta hingga jelang subuh.  Alhamdulilah, sang istri dapat memahami kondisi ini dan berusaha meyakinkan aku bahwa pasti ada hikmah dibalik semua ini. Namun, sepertinya rasa haru dan tangis tak kuasa lagi kutahan, ketika anakku Syahid, 2,5 tahun, menghambur dan mendekat ke arahku ketika dia bangun tidur pagi hari, dan berkata, “ Motor Syahid mana, Bi…??? Abi cihhh…”, dengan polos ia berujar. Seketika air mataku tumpah tak tertahankan. “ Nak, maafkan Abi yah. Doakan semoga motornya cepat kembali dan bisa ajak Syahid jalan-jalan lagi keliling pake motor, “ ucapku lirih di telinganya dengan air mata yang semakin menderas…

   
Action & Wisdom Motivation TrainingDi pagi hari buta, terlihat seorang pemuda dengan bungkusan kain berisi bekal di punggungnya tengah berjalan dengan tujuan mendaki ke puncak gunung yang terkenal.

Konon kabarnya, di puncak gunung itu terdapat pemandangan indah layaknya berada di surga. Sesampai di lereng gunung, terlihat sebuah rumah kecil yang dihuni oleh seorang kakek tua.

Setelah menyapa pemilik rumah, pemuda mengutarakan maksudnya “Kek, saya ingin mendaki gunung ini. Tolong kek, tunjukkan jalan yang paling mudah untuk mencapai ke puncak gunung”.

Si kakek dengan enggan mengangkat tangan dan menunjukkan tiga jari ke hadapan pemuda.

“Ada 3 jalan menuju puncak, kamu bisa memilih sebelah kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Kalau saya memilih sebelah kiri?”

“Sebelah kiri melewati banyak bebatuan.” Setelah berpamitan dan mengucap terima kasih, si pemuda bergegas melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam kemudian dengan peluh bercucuran, si pemuda terlihat kembali di depan pintu rumah si kakek.

“Kek, saya tidak sanggup melewati terjalnya batu-batuan. Jalan sebelah mana lagi yang harus aku lewati kek?”

Si kakek dengan tersenyum mengangkat lagi 3 jari tangannya menjawab, “Pilihlah sendiri, kiri, tengah atau sebelah kanan?”

“Jika aku memilih jalan sebelah kanan?”

“Sebelah kanan banyak semak berduri.” Setelah beristirahat sejenak, si pemuda berangkat kembali mendaki. Selang beberapa jam kemudian, dia kembali lagi ke rumah si kakek.

Dengan kelelahan si pemuda berkata, “Kek, aku sungguh-sungguh ingin mencapai puncak gunung. Jalan sebelah kanan dan kiri telah aku tempuh, rasanya aku tetap berputar-putar di tempat yang sama sehingga aku tidak berhasil mendaki ke tempat yang lebih tinggi dan harus kembali kemari tanpa hasil yang kuinginkan, tolong kek tunjukkan jalan lain yang rata dan lebih mudah agar aku berhasil mendaki hingga ke puncak gunung.”

Si kakek serius mendengarkan keluhan si pemuda, sambil menatap tajam dia berkata tegas “Anak muda! Jika kamu ingin sampai ke puncak gunung, tidak ada jalan yang rata dan mudah! Rintangan berupa bebatuan dan semak berduri, harus kamu lewati, bahkan kadang jalan buntu pun harus kamu hadapi. Selama keinginanmu untuk mencapai puncak itu tetap tidak goyah, hadapi semua rintangan! Hadapi semua tantangan yang ada! Jalani langkahmu setapak demi setapak, kamu pasti akan berhasil mencapai puncak gunung itu seperti yang kamu inginkan! dan nikmatilah pemandangan yang luar biasa !!! Apakah kamu mengerti?” Dengan takjub si pemuda mendengar semua ucapan kakek, sambil tersenyum gembira dia menjawab “Saya mengerti kek, saya mengerti! Terima kasih kek! Saya siap menghadapi selangkah demi selangkah setiap rintangan dan tantangan yang ada! Tekad saya makin mantap untuk mendaki lagi sampai mencapai puncak gunung ini.Dengan senyum puas si kakek berkata, “Anak muda, Aku percaya kamu pasti bisa mencapai puncak gunung itu! Selamat berjuang!!!

Tidak ada jalan yang rata untuk sukses!

Sama seperti analogi Proses pencapaian mendaki gunung tadi. Untuk meraih sukses seperti yang kita inginkan, Tidak ada jalan rata! tidak ada jalan pintas! Sewaktu-waktu, rintangan, kesulitan dan kegagalan selalu datang menghadang. Kalau mental kita lemah, takut tantangan , tidak yakin pada diri sendiri, maka apa yang kita inginkan pasti akan kandas ditengah jalan.

Hanya dengan mental dan tekad yang kuat, mempunyai komitmen untuk tetap berjuang, barulah kita bisa menapak di puncak kesuksesan.

Salam sukses luar biasa!

Andrie Wongso

www.andriewongso.com

Sabtu kemarin, akhirnya kuputuskan untuk jadi menitipkan barang ke bazaar di GPIB Immanuel ? Gereja ? bener banget, sebuah gereja tua di depan stasiun Gambir itu tengah mengadakan bazaar tahunan bertajuk : Charity Bazaar 2006. Olala, ternyata bazaar ini penuh banget pengunjungnya. Sampai macet cet menuju lokasi. Welehh…

Kelar urusan di toko Abinya MTA, sekitar jam 12 siang lebih dikit aku langsung meluncur ke lokasi, naik motor dengan boncengan setumpuk sepatu…uppps, akhirnya sampai juga jam 1 lebih dikit. Ditengah teriknya mentari Jakarta dan padatnya pengunjung, ketengok satu per satu stand-stand yang ada. Duh, mana nih standnya Mbak Niken ? Hehe, untuk info aja, sebelumnya aku tuh belum pernah sama sekali ketemu Mbak Niken. Biasa, kenalan via milis. Semoga aja orangnya baik dan enak diajak ngobrol…

Cukup lama muter-muter area bazaar, akhirnya ketemu juga stand no. 19 milik Mbak Niken. Tapi, tunggu dulu, Mbak Niken ? Ternyata nama itu gak dikenal oleh penjaganya. Waduh, gimana dong ? Udah repot-repot bawa sepatu naik motor, gak ketemu pula ??? Mana HP low bat lagi…hik. Kemudian, ” Mbak, titip dulu ya, ” ujarku lirih dengan muka melas karena capek abis muter-muter. Sejurus kemudian, aku langsung ke wartel buat telp si empunya stand. Walah, ternyata Mbak-nya lagi dijalan, abis ambil ATM, trus kejebak macet. Ya udah deh terpaksa nungguin. Tapi bener Mbak Niken ??? Cek lagi ke penjaganya, oala, ternyata nama aslinya tuh Mbak Aurora, Niken itu nama temennya yang dipake buat kirim email.Nama virtual gitu loh, hehe, pantesan gak dikenal. Tapi, lega deh dikit akhirnya ketemu juga.

Namun, perjuangan belum berakhir. Perlu ekstra kesabaran untuk nunggu Mbak Aurora sampai ke stand bazaar. Enaknya ngapain ya ? Sholat dulu kali ya, ini kan dah masuk waktu dhuhur. Yap, walo tengah berada di komunitas non-muslim, untuk yang satu ini tetap prioritas dong. Kadang-kadang terpikir, betapa indahnya kerjasama terjalin tanpa menganggu wilayah akidah/keyakinan masing-masing. Seperti sekarang…

Kelar sholat, aku balik lagi ke area bazaar. Hm, kalo kuperhatikan sih mostly pada jualan makanan-minuman ya. Rame banget kalo mampir ke stand makanan-minuman ini. Biasalah, dimana-mana bazaar kan yang diserbu duluan ya makanan, apalagi kalo pas siang-siang, laper gak bisa ditahan. hehe. Tapi, tunggu dulu. Ada juga stand-stand lain seperti aksesoris, sepatu, baju yang tak kalah ramenya. Terutama stand sepatu persis di depan stand-nya Mbak Aurora. Wihhh…

Walo sedikit agak ke pojok, stand-nya Mbak Aurora terlihat cukup ramai dilalui pengunjung bazaar. Sesekali kulihat beberapa pengunjung melirik koleksi aksesories dan sendal jualannya Mbak Aurora. Lho, sepatunya gimana dong ? hik, karena Mbak-nya belum datang, jadi terpaksa koleksi sepatunya masih terbungkus rapi di plastik…bete juga sih, sementara ngelihat pengunjung hilir mudik lihat2 koleksi sepatu di stand depan, aku hanya bisa termangu menunggu kedatangan Mbak Aurora. Tak apalah, masih ada waktu besok. Jelang sore, akhirnya sampai juga Mbak-nya datang di stand bazaar. Alhamdulilah…

Oala, sekilas Mbak-nya tampak seperti bukan orang Indo coz dia pake bahasa luar sono, kayaknya Belanda deh. Wah, noni Belanda ? tak tahulah, whatever pokoknya ternyata Mbak-nya itu orangnya baik, enak diajak ngobrol. Malah, — ini yang jarang-jarang — dia gak mau menaikkan harga untuk profitnya sendiri, jadi sepatu yang kutitip itu murni pake harga jual dari aku. Senangnya…

Tapi, justru disitu masalah muncul. Karena tidak mau menaikkan harga jual, Mbak-nya jadi sampai lupa untuk ‘mark-up’ harga sekian rupiah untuk antisipasi pembeli nawar. Jadilah beliau kerepotan ketika banyak pengunjung  tertarik dengan koleksi sepatuku tapi dengan harga jauh dibawah label yang tertera. Tapi sebelumnya sudah kutegaskan bahwa untuk all items, harganya bisa turun hingga belasan ribu rupiah, tapi gak sampe ‘menukik’ mendekati harga modal. Kalo gitu sih, jual modal dong…hehe.

Alhasil, Minggu pagi jelang siang itu aku disibukkan dengan SMS dan telepon untuk kembali menegaskan soal limit harga yang bisa dijual. Tapi apa mau dikata, sepatu sudah dilabel dan bazaar akan segera berakhir malamnya. Tak apalah, setidaknya ini bisa untuk jadi pembelajaran untuk kedua pihak. Itung-itung, ngisi kekurangan penjualan minggu ini di toko, ya lumayanlah daripada zero sama sekali, hehe. Sampai ketemu di event bazaar berikutnya…

Untuk kesekian kalinya, aku ikut kegiatan ‘off-air’ komunitas TDA. Hmm, bener kali ya TDA ini sebenarnya tidak diniatkan untuk menjadi milis tapi lebih dari itu. Yap, gimana nggak hampir tiap minggu ada aja kegiatannya…jadi ya wajar aja hubungan kekerabatan antar personilnya juga makin erat, lha wong sering ketemu…

Pasca lebaran, sebuah ‘perhelatan’ cukup besar digelar. Hehe, gak ding kok terlalu didramatisir banget. Ini kan rencana lama waktu puasa, dimana rekan-rekan pada bersemangat mau membentuk TDA Food. Nah, lho, apalagi tuh ? Sebagian rekan TDA ada yang expert dibidang makanan, lalu menggagas ide agar komunitas TDA juga bikin ‘divisi’ tersendiri yang bahas soal makanan dan cs-nya. Jadilah TDA Food…

Kalo ngomongin soal makanan sih, gak ada habisnya deh. Aku pikir juga bisnis ini gak akan pernah mati, kecuali kalo manusia sudah tahan lapar, minum dan tak membutuhkan sesuatu untuk dimasukkan kedalam perutnya, alias mati. hiiii…bener banget, bisnis makanan atau yang populer disebut kuliner itu tak lekang ditelan zaman. Ciee…

Back to TDA Food, rencananya Sabtu ini ( 04/11 ), akan diadakan meeting di Omah Sendok milis Pak Wasis. Kelihatannya para jawara bisnis dari TDA bakalan pada dateng, jadi sayang kalo kesempatan ini dilewatkan begitu saja. Lagian, aku pernah juga lho berkutat di bisnis makanan, gak lama sih, masih seumur jagung, tapi sayangnya layu sebelum berkembang…hik. Kapan-kapan aku cerita ya soal yang ini. Kali ini aku hanya ingin membangun motivasi bisnisku terus agar tetap menyala dan menggelora dengan sering-sering berinteraksi dengan para jawara bisnis, at least virus entrepreneur dan jiwa pantang menyerahnya diharapkan akan menular…hehe.  

Semoga saja aku dapat membina hubungan baik dengan mereka dan mendapatkan nilai lebih disana. Silaturahmi membawa rejeki…insyaAllah. Amin.

Wah, bener-bener semangat nih para milisser komunitas TDA. Baru kali ini aku menemukan komunitas milis dimana nuansa kekerabatannya sangat terasa, — mungkin karena mereka sudah sering kontak langsung kali ya, melakukan deal-deal bisnis, dsb — jadinya ya begitu. Agak berbeda dengan milis pada umumnya, dimana isinya lebih banyak diskusi dan wacana, paling mentok diakhiri dengan silaturahmi offline, TDA ini beda banget. I dont know why…

Diawali dengan pembentukan TDA Garment, tak lama kemudian muncul TDA Seluler, TDA IT, TDA Sepatu, dan yang paling anyar TDA Food. Hmm, sebenarnya penamaan itu hanya simbol saja, lha wong sebenernya pemainnya itu-itu juga, hehe. Gak juga ding, banyak juga kok wajah-wajah baru…Tapi kan namanya bisnis emang mesti selalu inovasi dan ekspansi, bisnis kan gak selalu hitam putih, banyak fluktuasinya. Orang bisnis itu kan identik dengan kutu loncat, dimana ada gula, disitu ada semut…:-). Bener gak sih ?

Aku sih masih dalam tahap belajar. Belajar dalam segala hal. Dari mulai konsep, motivasi, ilmu sampe ke aspek-aspek teknis produksi, pemasaran dan distribusi…learning by doing ajalah. Lebih baik kan pengalaman langsung, daripada sekedar berteori, kalo di TDA namanya Take Action…Hm, sebenarnya sih intuisi dagang/bisnis sudah semenjak dulu selepas SMA. Cuma bedanya, dulu tuh kebanyakan niatnya doang, actionnya nol besar, hehe. Gak sih, mungkin dulu niat itu tidak berkembang karena belum menemukan ‘tanah’ subur yang bisa membangkitkan gelora wirausaha. Malah, pernah suatu saat, aku ‘dipaksa’ kerja kantoran padahal lagi giat-giatnya dagang. hiks. Sekian tahun kondisi seperti ini terus berlanjut, aku hanya mampu menjadi seorang karyawan, dengan kenaikan gaji setahun sekali mengikuti inflasi…hik. Hanya sebentar aku menikmati perjalananku sebagai orang gajian ( mungkin ketika untuk pertama kalinya aku terima gaji sendiri ), namun kemudian pelan tapi pasti, rasa gelisah bergelayut apalagi saat krisis ekonomi melanda negeri. Wahhh…

Sontak tersadar, kondisi ‘nyaman’ ini tak akan selamanya berlangsung. Nyaman ? sebenarnya tidak juga karena setiap harinya aku berkutat dengan rutinitas yang menjemukan dan rekan kerja yang tak selamanya menyenangkan. Plus karir yang bak keong berjalan…upppss, bukannya aku tak bersyukur yah. Tolong jangan kaitkan ini dengan rasa syukur, karena itu urusannya lain. insyaAllah, aku tetap bersyukur Allah masih memberikan rejeki lewat saluran gaji, justru karena rasa syukurku itu, aku ingin agar aku bisa terus menjemput rejeki yang lebih besar melalui bisnis yang dirintis sendiri dimana suatu saat aku bermimpi bisa menghidupi orang lewat usaha yang kubangun…

Yap. Tak ada pilihan lain, aku harus segera memulai. Hanya ada dua pilihan : menjadi Pemenang atau Pecundang. Saya pikir menjadi seorang karyawan atau pebisnis adalah pilihan. Masing-masing tetap punya nilai plus minusnya. Tergantung  jalan mana yang akan diambil. Hanya sekarang, tampaknya pilihan menjadi seorang pebisnis sejati semakin hari semakin kuat, bermimpi suatu saat menjadi seorang aghniya yang bisa memberikan sedekah lebih banyak untuk kaum papa dan menikmati serta mengisi hidup dengan lebih berkualitas, beribadah, beraktivitas sosial dakwah dengan waktu yang bisa ditentukan sendiri…subhanallah. Ya Allah kabulkanlah hajat hamba-Mu ini…amin.

Alhamdulilah, akhirnya aku bisa belanja untuk toko lagi. Setelah kuhitung-hitung omzet penjualan kemarin, yah cukuplah untuk beli beberapa kodi lagi. Semua harga dan model sepatu kuserahkan sepenuhnya ke Kak Diah, karena dia yang langsung berhubungan di lapangan dan banyak memberi masukan-masukan soal model-model sepatu yang lagi ngetrend.

Hmm, namanya juga masih baru jadi wajar aja kalo belum tahu ‘medan pertempuran’. Tempo hari belanja di Jatinegara untuk stok sepatu awal itu ternyata belinya kemahalan disamping juga modelnya yang sudah agak out-of-dated. Hiks. Tapi, untunglah, walo demikian masih jalan juga sedikit-sedikit. Semoga stok lama semua bisa keluar dan segera berganti dengan model baru yang lebih ‘fresh’. Sekarang sih aku muterin uang yang ada dulu aja deh, gak berani dulu menggelontorkan dana segar apalagi pinjam lagi ke pihak ketiga. Wih, ngeri kalo gak bisa balikin…lha wong ini aja, mesti putar otak gimana caranya dana hasil pinjaman yang lagi diputar ini sedikit demi sedikit bisa terkumpul. InsyaALLAH, aku sih tetap berharap semoga penjualan kedepan semakin lancar…amin.

Setidaknya, aku belajar banyak dari sini. Tugas terberatku sekarang adalah menentukan strategi penjualan kedepan. Kira-kira bagusnya gimana ya ? Sempat sih terpikir untuk ikutan bazaar reguler pas weekend misalnya…cuma kira2 itu cukup mendongkrak penjualan ga ? Gimana jika sebaliknya ? Nanti malah jadi rugi dua kali kan kalo gak jalan. Udah nanggung operasional toko tiap bulan, eh ditambah lagi biaya sewa untuk ikutan bazaar. Tapi, kalo gak begitu gimana toko ini bisa dikenal ? Bikin brosur ? Kartu Nama ? Belum ketemu ide nih…