October 2006


Sekarang aku mau cerita sedikit yah soal gedung Metro Tanah Abang ( MTA ). Awalnya sih terus terang aku gak cukup akrab dengan kawasan Tanah Abang, maklum deh tempat itu kan terkenal dengan macetnya yang minta ampun…jadi dulu-dulu bisa dihitung dengan jari aku mau berkunjung ke kawasan tersebut.

Tapi tidak untuk saat ini. Hehe, mungkin karena aku punya ‘kepentingan’ disini, jadi mesti lebih paham lingkungan. ;-) . Sekarang kawasan Tanah Abang sudah jauh berbeda, walaupun tetap saja kemecetan jadi menu sehari-hari…bedanya mungkin sekarang banyak gedung-gedung baru bermunculan, salah satunya yah MTA  ini.

Terletak di ujung jalan Wahid Hasyim, sebuah gedung putih bertingkat langsung bisa dikenali. Agak berbeda dengan mal pada umumnya, MTA ini justru tutup di hari Minggu. Jadi dia punya jam operasional kayak orang kerja, Senin-Sabtu, Pk. 08.00-16.00 WIB. Umumnya sih yang datang, disamping pembeli dari seputaran Jabotabek, kebanyakan orang daerah yang biasa berbelanja grosir. Terlihat di lantai satu hingga tiga yang dipenuhi pedagang garmen, aktivitas harian sibuk dengan angkut-angkut barang, pakaian, busana muslim, kaos berkodi-kodi ke seantero nusantara. Dalam hati berucap, enak bener ya kalo sudah ada langganan, tinggal kirim barang…apalagi musim lebaran kemarin, wah MTA penuh sesak sama lalu lintas orang yang berbelanja. Nyaris tak ada toko sepi pembeli, semua sibuk melayani pelanggan yang meluber…

Namun, kondisi tersebut tak dijumpai di lantai basement. Disini masih jarang dijumpai lalu lintas orang yang berbelanja, mungkin karena banyak kios-kios yang masih belum terisi. Jadinya pengunjung agak malas kalau mesti ke lantai basement, kesannya masuk ‘lorong’ gitu, tak berpenghuni. :-( . Namun…lihat, tampaknya ada yang menarik ? Wow, ternyata ada deretan kios yang mulai bersinar. Yap, apalagi kalo bukan kios sepatu yang diisi para pendekar bisnis dari Komunitas TanganDiatas. Sepertinya ini anomali. Ditengah kelesuan aktivitas bisnis di lantai basement, justru kios-kios sepatu itu berani unjuk gigi, maju bersama memamerkan dagangannya di lantai basement yang bak lorong itu.

Pelan namun pasti, lantai basement mulai berdenyut. Para pendekar bisnis di kios-kios sepatu itu tetap berpikir keras, memutar otak, bagaimana caranya agar dagangannya tetap laris. Akhirnya, entah ide dari siapa, disepakati untuk ‘jualan bareng’ di dekat ekskalator menuju lantai dasar. Setidaknya disitu potensi orang untuk lewat lebih besar dibanding di kios yang bisa dihitung dengan jari. Alhamdulilah, perlahan-lahan kios-kios sepatu di lantai basement mulai ‘dilirik’. Pengunjung MTA mulai ‘ngeh’ kalo ada deretan kios-kios sepatu yang menjajakan dagangan berkualitas. Tak lama, sebuah meja panjang digelar, ramai-ramai dagang bareng di meja tersebut, jadilah meja itu penuh dengan sepatu-sepatu ‘keroyokan’….hasilnya ? subhanallah,  rejeki tak kan tertukar. Sedikit-demi sedikit, omzet kami merangkak naik, walau masih belum terlalu signifikan, namun kami bersyukur bahwa ternyata barang keluar dan bisa belanja lagi. Bahkan ada beberapa yang mendapat langganan yang beli secara grosir. Alhamdulilah…Allahu Akbar. Semoga kedepannya lantai basement MTA bisa seramai lantai diatasnya. Aminnn.

Selepas balik dari kampung, aku mulai disibukkan lagi dengan urusan toko sepatu Abinya ini. Maklum lebih dari seminggu operasional toko kepegang, sepenuhnya kuserahkan pada penjaga toko, Kak Diah yang masih saudara sepupu.

Sabtu kemarin ( 28/10 ), aku dan keluarga menyempatkan berkunjung ke rumah Kak Diah di bilangan Kawi-Kawi Bawah Jakarta Pusat. Sekalian silaturahim aja, karena kebetulan hampir semua saudara-saudara almarhum ayah ada disitu…cuma sayang, aku tidak sempat mampir ke makam ayah karena ada perlu lagi ke Rawamangun, tapi insyaAllah kalo doa untuk ayah tidak terputus, mungkin suatu saat makam ayah bisa kukunjungi…

Jelang siang, akhirnya aku sampai juga di rumah Kak Diah. Cerita-cerita ngalor-ngidul seputar Lebaran di kampung, akhirnya cerita berujung pada aktivitas toko seminggu terakhir. Alhamdulilah, pengunjung merangkak naik dan perlahan penjualan pun meningkat. Walau masih belum seperti yang diharapkan, tapi yah mungkin itulah hasil maksimal yang bisa kuperoleh. Kami berucap syukur saja…memang ternyata lantai basement PGMTA perlu lebih banyak lagi promosi supaya orang pada datang berkunjung, semoga saja kedepannya ada pembenahan dari pengelola Mal gimana caranya menarik lebih banyak orang lagi mampir ke lantai basement PGMTA. Yang kuperhatikan sih, kios-kios disana masih banyak yang kosong, jadi orang agak malas mampir ke basement, kesannya masuk ‘lorong’ gitu, hehe. Tapi gak ding, alhamdulilah semenjak kios-kios sepatu dibuka, perlahan kios-kios sejenis dibuka juga disitu, yah mudah-mudahan aja hal ini terus berlanjut, jadinya kan lantai basement bisa ramai…

Jadi gak dapet dong nih ‘rejeki nomplok’ lebaran ? Hmm, bisa dibilang dapat, bisa juga gak. Lho ? Abis gimana, alhamdulilah penjualan sih lancar walo masih tersendat, tapi yah gak booming-booming amat. Sepertinya memang mesti ada inovasi dan strategi yang benar-benar jitu untuk mengatasi hal ini.

Yang perlu dipikirkan sekarang adalah bagaimana agar penjualan bisa terus meningkat. Hmm, ibarat bayi, toko ini memang masih terus diberi ‘gizi’ supaya tetap sehat. Harus ada target, timetable tersendiri kapan toko Abinya harus bisa mencapai omzet sekian juta per bulan. Kalo jangka pendeknya sih, yang penting bisa nutup operasional dulu deh, dan bisa bayar cicilan ke pihak ketiga. If I wish…I hope so. InsyaAllah.

medium_Model_Sepatu_Outlook-1.jpgAlhamdulilah…akhirnya aku jadi buka toko juga. Toko Abinya ? hehe…it sounds nice and different. at least, menurut aku sendiri yang ngasih nama. Belum resmi sih, baru ancang-ancang saja mau dikasih nama apa toko itu. Paling nggak, aku bisa bernapas sedikit lega karena satu tahapan dari rencana jangka panjang telah berhasil kulewati….

Rencana Jangka Panjang ? hehe…kayak pembangunan Indonesia aja. Gpplah, niru-niru dikit, tokh emang pada akhirnya kita mesti menentukan tujuan tertentu kan, mau dijadikan seperti apa kehidupan ekonomi ini nantinya, apa selamanya jadi pegawai kantoran atau pilih berwirausaha mandiri, itu adalah pilihan. Sudahlah, panjang ceritanya kalo membahas hal yang satu ini. Back to toko Abinya…

Buat yang pengen tahu, toko Abinya itu sebetulnya adalah singkatan dari nama saya, istri dan anak. Yah, dipas-pasin aja deh biar nyambung. Lagian nama itu kan jarang kedengeran. Untuk saat ini, toko Abinya menyediakan aneka produk sepatu dan tas yang dijual secara grosir juga eceran. Karena itu, hari-hari belakangan ini saya disibukkan juga dengan survey ke beberapa produsen sepatu untuk mendapatkan kualitas terbaik dan harga terjangkau.

Beneran, toko Abinya berisi sepatu dan tas berkualitas dengan harga terjangkau. Bisa dibeli grosiran, eceran juga boleh. Bahan dan model bagus-bagus, fashioned banget deh. hehe…jadi promosi gini yah. Gpp kan sekalian, kan di blog sendiri ini…penasaran ? makanya datang ramai-rami ke Pusat Grosir Metro Tanah Abang Lt. LG ( Basement ) No. 78. Pokoke, deket pintu masuk Kebon Kacang I, ada tangga menuju basement, nah ubek-ubek deh toko-toko disitu…

Tapi, kok sepatu dan tas sih ? Bukannya selama ini sudah nyemplung juga ke bazaar dan pameran berbisnis garmen/jilbab ? yap, hanya tekad dan semangat untuk berubah saja yang menentukan mengapa saya ambil keputusan ini. Seperti yang sering saya katakan sebelumnya, bahwa ibarat masuk hutan, kali ini benar-benar gelap gulita dan pekat. Tapi saya tidak ingin menjadikan itu halangan. Tapi bukan berarti tanpa perhitungan dan strategi lho…kalo yang ini sih tetap penting kan. Ngapain juga nyebur ke jurang ? hehe.. semoga tidak…

Pokoknya begitulah. Biarlah saat ini saya menikmati proses perubahan ini, perubahan pola pikir, perubahan paradigma dan mind set bahwa rejeki Allah itu Maha Luas. Saya percaya saja dengan usaha, doa dan ikhtiar yang sungguh-sungguh, insyaALLAH suatu saat akan ketemu jalannya. Saya tidak ingin selamanya ’stag’ seperti saat ini. ‘Stag’ ? you know that lah…it’s my private reason, not for public consume.