Sekarang aku mau cerita sedikit yah soal gedung Metro Tanah Abang ( MTA ). Awalnya sih terus terang aku gak cukup akrab dengan kawasan Tanah Abang, maklum deh tempat itu kan terkenal dengan macetnya yang minta ampun…jadi dulu-dulu bisa dihitung dengan jari aku mau berkunjung ke kawasan tersebut.
Tapi tidak untuk saat ini. Hehe, mungkin karena aku punya ‘kepentingan’ disini, jadi mesti lebih paham lingkungan.
. Sekarang kawasan Tanah Abang sudah jauh berbeda, walaupun tetap saja kemecetan jadi menu sehari-hari…bedanya mungkin sekarang banyak gedung-gedung baru bermunculan, salah satunya yah MTA ini.
Terletak di ujung jalan Wahid Hasyim, sebuah gedung putih bertingkat langsung bisa dikenali. Agak berbeda dengan mal pada umumnya, MTA ini justru tutup di hari Minggu. Jadi dia punya jam operasional kayak orang kerja, Senin-Sabtu, Pk. 08.00-16.00 WIB. Umumnya sih yang datang, disamping pembeli dari seputaran Jabotabek, kebanyakan orang daerah yang biasa berbelanja grosir. Terlihat di lantai satu hingga tiga yang dipenuhi pedagang garmen, aktivitas harian sibuk dengan angkut-angkut barang, pakaian, busana muslim, kaos berkodi-kodi ke seantero nusantara. Dalam hati berucap, enak bener ya kalo sudah ada langganan, tinggal kirim barang…apalagi musim lebaran kemarin, wah MTA penuh sesak sama lalu lintas orang yang berbelanja. Nyaris tak ada toko sepi pembeli, semua sibuk melayani pelanggan yang meluber…
Namun, kondisi tersebut tak dijumpai di lantai basement. Disini masih jarang dijumpai lalu lintas orang yang berbelanja, mungkin karena banyak kios-kios yang masih belum terisi. Jadinya pengunjung agak malas kalau mesti ke lantai basement, kesannya masuk ‘lorong’ gitu, tak berpenghuni.
. Namun…lihat, tampaknya ada yang menarik ? Wow, ternyata ada deretan kios yang mulai bersinar. Yap, apalagi kalo bukan kios sepatu yang diisi para pendekar bisnis dari Komunitas TanganDiatas. Sepertinya ini anomali. Ditengah kelesuan aktivitas bisnis di lantai basement, justru kios-kios sepatu itu berani unjuk gigi, maju bersama memamerkan dagangannya di lantai basement yang bak lorong itu.
Pelan namun pasti, lantai basement mulai berdenyut. Para pendekar bisnis di kios-kios sepatu itu tetap berpikir keras, memutar otak, bagaimana caranya agar dagangannya tetap laris. Akhirnya, entah ide dari siapa, disepakati untuk ‘jualan bareng’ di dekat ekskalator menuju lantai dasar. Setidaknya disitu potensi orang untuk lewat lebih besar dibanding di kios yang bisa dihitung dengan jari. Alhamdulilah, perlahan-lahan kios-kios sepatu di lantai basement mulai ‘dilirik’. Pengunjung MTA mulai ‘ngeh’ kalo ada deretan kios-kios sepatu yang menjajakan dagangan berkualitas. Tak lama, sebuah meja panjang digelar, ramai-ramai dagang bareng di meja tersebut, jadilah meja itu penuh dengan sepatu-sepatu ‘keroyokan’….hasilnya ? subhanallah, rejeki tak kan tertukar. Sedikit-demi sedikit, omzet kami merangkak naik, walau masih belum terlalu signifikan, namun kami bersyukur bahwa ternyata barang keluar dan bisa belanja lagi. Bahkan ada beberapa yang mendapat langganan yang beli secara grosir. Alhamdulilah…Allahu Akbar. Semoga kedepannya lantai basement MTA bisa seramai lantai diatasnya. Aminnn.